Sistematika Penulisan Karya Ilmiah yang Benar, Yuk Ikuti Langkah-Langkahnya!

452 views

Hybernasi.com –Karya Ilmiah. Penulisan karya ilmiah (scientific paper) selalu terhubung dengan standar, sistematika, dan struktur kepenulisan yang ketat. Yang membuatnya ketat, salah satunya, adalah karena penulisan karya ilmiah menjadi kiblat dari berbagai jenis karangan yang mutu dan tanggung jawab akademiknya berada di bawahnya. Namun begitu, standar penulisan karya ilmiah tidak selamanya sama antara satu dengan lain lembaga penerbit karya ilmiah. Terdapat puluhan, atau mungkin juga ratusan, standar penulisan di dunia ini. Kali ini Hybernasi hendak berbagi artikel dalam bertajuk “Sistematika Penulisan Karya Ilmiah yang Benar” yang didasarkan kepada kelaziman pemberlakuannya –lebih-lebih dalam masyarakat ilmiah Indonesia.

Sistematika Penulisan Karya Imliah yang Benar

Sebelum melangkah lebih jauh untuk menggali tema bahasan Hybernasi kali ini, pada awal-awal paragraf ini akan diuraikan terlebih dahulu seputar definisi, jenis, dan kode etik karya ilmiah. Dengan begitu, kita akan memiliki cara pandang bahwa sesungguhnya dunia kepenulisan karya ilmiah sudah sejak lama berdiri kokoh di atas berbagai landasan yang telah disepakati oleh para peneliti dan akademisi.

Di samping itu, terdapat berbagai kekhasan mazhab kepenulisan yang tidak semata dimotivasi oleh faktor-faktor di luar yang sifatnya akademik dan intelektual. Kekhasan tersebut, umumnya, dilatari oleh kultur atau tradisi kepenulisan masing-masing tempat atau lembaga penelitian. Namun, di antara berbagai mazhab kepenulisan, terdapat beberapa yang sangat populer dan paling banyak diadopsi. Dan itu sebabnya, ia seperti menjadi standar umum di kalangan akademisi dan peneliti untuk membingkai karyanya berdasarkan standar aliran kepenulisan tersebut.

Sebelum mengulik sistematika penulisannya, berikut ini akan diuraikan terlebih dahulu defini, jenis-jenis, dan kode etik karya ilmiah. Setelah itu, baru diberikan uraian mengenai sistematika penulisan karya ilmiah.

 

Pengertian Karya Ilmiah

Pada dasarnya, pengertian karya ilmiah (scientific paper) adalah tulisan atau laporan hasil penelitian yang memenuhi etika keilmuan dan kaidah ilmiah. Laporan hasil penelitian ini kemudian diterbitkan atau dipublikasikan.

Karya ilmiah tidak harus dilakukan oleh orang per orang yang berasal dari lingkungan akademis atau lembaga penelitian resmi. Ia juga dapat dilakukan oleh perseorangan, sekelompok orang, organisasi, atau lembaga-lembaga swadaya tertentu yang memiliki minat untuk melakukan riset dan kajian. Dan riset dimaksud juga tidak tertentu untuk riset lapangan dan riset pustaka, melainkan juga laporan hasil kegiatan belajar dan mengajar di dalam dan luar kelas. Dengan demikian, penulisan karya ilmiah memiliki cakupan yang sangat luas dan tak terbatas.

Di Indonesia, terdapat beragam peraturan perundang-undangan yang memuat pentingnya karya ilmiah, sebagai misal;

  • UU Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) No. 20 Tahun 2003
  • UU No. 14 Tahun 2005 (tentang Guru dan Dosen).
  • PP (Peraturan Pemerintah) tentang Dosen tahun 2009 No. 37
  • Permendiknas RI No. 17 tahun 2010 (tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi).
  • Permendiknas RI No. 22 Tahun 2011 (Tentang Terbitan Berkala Ilmiah).
  • Permen PAN dan Reformasi Birokrasi No. 46 Tahun 2013 (tentang Jabatan Fungsional Dosen dan Angka Kreditnya).
  • Permendikbud No. 49 Tahun 2014 (tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi).
  • Permendikbud No. 92 Tahun 2014 (tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Penilaian Angka Kredit Jabatan Fungsional Dosen dan Angka Kreditnya).
  • Permenristek dan Pendidikan Tinggi No. 42 Tahun 2016 (tentang Pengukuran dan Penetapan Tingkat Kesiapterapan Teknologi).
  • Permenristek dan Pendidikan Tinggi No. 20 Th. 2017 (tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor).

 

Jenis-Jenis Karya Ilmiah

Dalam konteks Indonesia, penerbitan karya ilmiah tidak bisa dilepaskan dari tujuan-tujuan pokok didirikannya perguruan tinggi atau universitas. Tujuan-tujuan pokok tersebut biasa disebut sebagai Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat. Karya ilmiah, seluruhnya, dapat diacukan kepada keseluruhan tri dharma perguruan tinggi tersebut, karena ia memang dapat dihasilkan dari ketiganya.

Adapun jenis-jenis karya ilmiah tersebut, yaitu;

 

1. Laporan Laboratorium

Laporan laboratorium adalah suatu karya tulis yang menggunakan sistematika yang sangat tipologis dan umumnya bertujuan untuk suatu pelaporan kegiatan dalam suatu laboratorium. Biasanya, standar kegiatan laboratorium menggunakan SOP (Standard Operational Procedure) berdasarkan standar keilmuan yang berlaku secara khusus di lingkungan tersebut.

 

2. Laporan Studi

Laporan studi adalah karya tulis yang menggunakan sistematika tertentu, dan ia berfungsi untuk melaporkan suatu kajian yang berbasis pada sekumpulan pustaka. Bisa juga, ia merupakan laporan atas keikutsertaan pada kegiatan ilmiah semisal simposium, seminar, kongres, konferensi, atau comparative study, dengan acuan SOP yang tipikal atau berlaku dalam lingkungan yang terbatas dan tertentu.

 

3. Tugas Akhir

Secara sederhana, Tugas Akhir (TA) adalah laporan tertulis mahasiswa Diploma II (D2) atau diploma III (D3) di akhir jenjang studinya. Laporan jenis ini biasanya berupa rekaman keterampilan mahasiswa berdasarkan jenis vokasi tertentu.

 

4. Skripsi

Tulisan Ilmiah sarjana strata satu (S1) yang didasarkan kepada standar penelitian dan kaidah yang berlaku dalam lingkaran akademik suatu perguruan tinggi. Skripsi adalah deskripsi penelitian yang membahas suatu fenomena/permasalahan dalam lingkup bidang keilmuan tertentu, dengan menggunakan standar kaidah formal penulisan karya ilmiah.

Strata satu (S1) kerap pula disandingkan atau disejajarkan dengan Diploma Empat (DIV), yang sama-sama memiliki beban untuk merampungkan suatu karya di akhir masa kuliahnya. Namun, pada level DIV, tugas tersebut disebut sebagai Tugas Akhir (TA). Dan yang membedakannya dengan S1 juga adalah bahwa mahasiswa DIV mendapatkan penekanan pada bidang kevokasian, dengan kelebihan berupa keahlian praksis.

 

5. Tesis

Jika mahasiswa S1 menghasilkan skripsi sebagai tugas akhir, maka mahasiswa lulusan S2 harus merampungkan Tesis.

Berdasarkan jurusan yang diambil, mahasiswa jenjang S2 (pascasarjana) lebih berfokus kemampuan riset dan pengembangan teori. Oleh sebab itu, pada jenjang pascasarjana ini terdapat juga lulusan yang dianggap sebagai seorang dengan kemampuan spesialis (Sp1). Maka, hasil kajian mahasiswa S2 diharapkan dapat menyumbangkan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan akademis dan masyarakat luas.

 

6. Disertasi

Keniscayaan dalam karya ilmiah disertasi adalah bahwa disertasi harus menemukan unsur kebaruan dalam temuan-temuan penelitiannya.

Maka, disertasi dianggap sebagai Spesialis 2 (Sp2), karena sebelumnya ia sudah menyelesaikan Sp1. Untuk itu, mahasiswa program doktoral yang kemudian menelurkan disertasi dianggap sebagai seorang ilmuwan yang cakap secara teoritis, dan mampu mendeskripsikan kecakapannya dalam bentuk karya ilmiah. Dengan begitu, distribusi kemanfaatan dari disertasi diharapkan dapat dinikmati bukan saja oleh masyarakat akademis, melainkan pula masyarakat luas.

Semua jenis karya ilmiah di atas tentu harus memenuhi standar moral dan kode etik ilmiah yang berlaku umum dalam kalangan akademisi, peneliti, dosen, atau para pegiat ilmiah yang lain. Standar moral ini menjadi semacam moral guidance (petunjuk moral) di mana pelanggarnya akan dikenai sanksi moral. Namun pada kasus-kasus tertentu, kasus plariarisme misalnya, pelanggarnya tidak saja bisa dikucilkan dari lingkungan ilmiah, melainkan pula bisa dikenai pasal hukum pidana. Alasannya adalah bahwa setiap karya ilmiah merupakan aset paten yang terekam sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

 

Kode Etik Penulisan Karya Ilmiah

Kode etik ilmiah adalah seperangkat norma moral yang harus dipegang teguh oleh mereka yang terhubung dengan dan bekerja untuk dunia ilmiah, sebagai misal;

  1. Seorang penulis karya ilmiah harus jujur dengan sumber rujukan. Maksudnya, jika penulis mengutip pendapat seseorang, maka dia harus menyebutkan sumber kutipannya secara utuh.
  2. Penulis karya ilmiah harus menghindar dari tindak kecurangan, misalnya plagiasi. Tindakan plagiasi ini tentu perbuatan terkutuk dalam dunia ilmiah. Seorang yang secara serampangan mengambil hasil karya orang lain –dalam apapun bentuknya- sangat tidak dibenarkan.
  3. Seorang penulis juga harus memiliki keterbukaan sikap pada kritik atau komentar. Setiap karya ilmiah selalu bersifat relatif, dan itu sebabnya ia tak boleh tertutup pada temuan-temuan baru yang lebih segar dan meyakinkan.

Sebetulnya, kode etik karya ilmiah adalah kode etik yang berlaku secara umum di dalam hubungan sosial kemasyarakatan. Penulisan kode etik ini justru untuk memberikan penekanan bahwa dunia ilmiah adalah dunia yang sangat ketat memberlakukan etika dan moral.

Lalu, bagaimanakah cara dan sistematika penulisan karya ilmiah yang benar? Berikut ini penjelasannya.

 

Sistematika Penulisan Karya Ilmiah

Sistematika penulisan karya ilmiah adalah aspek-aspek internal kepenulisan yang harus dipenuhi oleh seorang penulis. Dengan kata lain, dengan mengabaikan aspek-aspek internal ini, suatu karya ilmiah akan gagal disebut sebagai karya ilmiah.

Terdapat berbagai cara dan strategi penyusunan naskah penulisan dan tiap-tiap penulis bisa jadi lebih suka mengikuti struktur, pola, dan alur naskah yang berbeda-beda. Pola dan struktur karya ilmiah kerap juga dipengaruhi oleh isi dan jenis naskah serta gaya kepenulisan si penulis. Untuk mempermudah penulis pemula, uraian-uraian di bawah ini disampaikan sesederhana mungkin sehingga para penulis pemula dapat mencernanya dengan gampang. Suatu naskah karya ilmiah umumnya terdiri atas berbagai aspek ini; judul, abstrak, pendahuluan, metodologi, teori, data, pembahasan, kesimpulan, dan daftar pustaka.

 

Judul

Secara umum, judul dimengerti sebagai penamaan untuk sebuah karya. Namun, karena judul yang dimaksud adalah judul untuk sebuah karya ilmiah, maka terdapat beberapa unsur yang harus dipenuhi oleh judul, antara lain;

  • Meggambarkan isi secara keseluruhan
  • Singkat, padat, jelas, dan spesifik
  • Gampang dipahami
  • Menarik minat untuk membaca keseluruhan isi tulisan
  • Boleh berbentuk pernyataan, atau pertanyaan
  • Dapat diuraikan ke dalam subjudul
  • Memuat kata kunci yang menggambarkan keseluruhan isi tulisan
  • Judul tidak ditulis dalam kalimat sempurna; melainkan dalam bentuk frase
  • Ditulis dengan ringkas, namun tetap menggambaran isi tulisan secara menyeluruh dan komprehensif. Sebagai misal, “Mengatasi Kemacetan Lalu Lintas dengan Startegi Plat Ganjil-Genap”.
  • Judul juga dapat berbentuk kalimat indikatif, seperti “Manfaat Daun Kersen bagi Kecantikan dan Kesehatan”
  • Tidak menggunakan kalimat atau kata-kata yang justru mereduksi kadar tulisan, semisal Secercah Coretan Tentang …, Sekelumit Tentang…, dan lain-lain
  • Hindari akronim atau singkatan
  • Jangan terlalu umum

 

Abstrak

Abstrak seringkali dimengerti sebagai ringkasan atau resume dari seluruh isi tulisan. Anggapan itu bisa benar, bisa juga kurang tepat; karena sesungguhnya, abstrak harus memenuhi beberapa unsur berikut ini.

  • Abstrak bebeda dari ringkasan. Abstrak hanya boleh ditulis dalam 1-3 paragraf.
  • Abstrak adalah gambaran utuh dari esensi naskah, namun tidak rinci. Sehingga, ia dapat memancing orang untuk membaca keseluruhan isi naskah.
  • Secara ringkas, abstrak memuat masalah, metodologi penelitian, dan kesimpulan dan saran.
  • Abstrak ditulis dalam jumlah kalimat yang sangat terbatas.
  • Abstrak diakhiri dengan kata kunci yang menggambarkan konsep-konsep artikel.

 

Pendahuluan

Sebagaimana umumnya, pendahuluan biasanya memuat berbagai uraian latar belakang dan alasan di baliknya kenapa suatu karya ilmiah ditulis. Namun persisnya, pendahuluan berisi hal-hal berikut;

  • Memberikan uraian tentang latar belakang persoalan agar pembaca mendapatkan panduan untuk mengetahui kenapa suatu soal layak dan harus dikaji
  • Memberikan uraian tentang keadaan persoalan terkini (diperkuat dengan kutipan-kutipan terpercaya)
  • Memberikan uraian tentang keterbatasan penulis terhadap masalah yang sedang dikaji
  • Memberikan uraian tentang alasan kenapa masalah tersebut penting diteliti
  • Menguraikan batasan masalah
  • Menguraikan masalah secara spasifik
  • Menuliskan tujuan penelitian

 

Metodologi

Metodologi, secara umum, berhubungan dengan berbagai metode yang diterapkan untuk jenis penelitian yang sedang dikerjakan.

  • Menyebutkan secara spesifik waktu dan lokasi penelitian
  • Menuliskan jenis penelitian yang sedang dihadapi
  • Mendaftar sumber data yang relevan, seperti teknik pengambilan sampel, analisis data, populasi, dan instrumen pengumpulan data

 

Hasil

Hasil penelitian adalah puncak dari penelitian itu sendiri. Di bagian ini, peneliti menguraikan hasil temuan yang telah dikerjakan.

  • Penyajian data (tabel atau grafik) biasanya dilakukan secara terintegrasi
  • Sistematika uraian analisis data biasanya disesuaikan dengan urutan dan skema masalah pada bagian pendahuluan
  • Analisis diperkuat dan ditunjang dengan berbagai pendapat/referensi dari berbagai kepustakaan, termasuk hasil studi orang lain
  • Kesimpulan

 

Pembahasan

Dalam pembahasan, hasil kajian umumnya disandingkan atau diperbandingkan dengan berbagai hasil studi dan penelitian lain yang sama atau setara.

  • Mengkomparasikan hasil atau kesimpulan penelitian dengan studi dan penelitian yang sejenis
  • Memberikan uraian tentang implikasi praktis dari kesimpulan penelitian
  • Memberikan masukan dan saran bagi penelitian lanjutan dalam bidang yang sama

 

Daftar Pustaka

Secara umum, penulisan daftar pustaka menganut sistem APA (American Psychological Association).

  • Menggunakan data kepustakaan (buku, majalah, jurnal, dan lainnya) semutakhir mungkin
  • Penulisan sumber yang diambil dari internet umumnya mencantumkan badan website/URL secara lengkap, judul dan penulis, dan tanggal tulisan didakses.

 

Akhirul Kata

Struktur penulisan karya ilmiah umumnya mengikuti sistem penulisan di mana suatu karya ilmiah hendak dipublikasikan. Namun, secara umum, uraian di atas sudah cukup mewakili berbagai sistematika penulisan karya ilmiah di Indonesia.

Demikian, semoga bermanfaat!

ilmiah jenis-jenis karya ilmiah karya karya ilmiah kode etik kode etik karya ilmiah penelitian pengertian karya ilmiah penulisan penulisan karya penulisan karya ilmiah perguruan tinggi sistematika penulisan sistematika penulisan karya sistematika penulisan karya ilmiah yang benar

Related Post

Leave a reply