Rengeng-Rengeng Warga Soal Pandemi

439 views
Rengeng-Rengeng Warga Soal Pandemi

Sumber: pexels.com

Hari-hari ini kita menyaksikan kematian bak cendawan di musim hujan. Dia merimbun rindang nan berakar kuat menghujam ke dalam bumi. Tiap saat dia pun menggelisahkan hari-hari kita.

Covid-19 ditengarai sebagai biang utama dari segala musibah ini, dan belum ada tetanda bahwa ia akan mereda dalam waktu singkat walau vaksin sudah disuntikkan (kepada kalangan terbatas). Malah, tren kenaikan korban terus menanjak. Data terakhir misalnya menunjukkan, Tanah Air berada di peringkat teratas di kawasan. Kalau tren kenaikan ini terus menjulang, bukan tidak mungkin bahwa keadaan darurat akan mengarah ke krisis akut yang dapat menerjang apa saja. Kita pasti tak berharap demikian.

Dalam dua bulan terakhir sudah tujuh orang meninggal, dan tiga di antaranya meninggal di rumah sakit karena covid. Hari ini ada satu lagi nyawa melayang secara tiba-tiba, pagi-pagi sekira jam sembilan. Total ada delapan orang meninggal di RT tempat saya tinggal, di kota Malang.

Seminggu lalu ketika turut mengantar kematian ketujuh, saya melihat bendera-bendera berwarna kuning dan hijau terpacak di depan rumah penduduk, juga penduduk RT tetangga. Bendera kuning menandakan “awas” dan hijau “aman”, begitu kata pak RT sewaktu kami mengobrol dengan warga lain selepas acara pemakaman. Siapa yang memasang? Petugas gugus covid, katanya lagi. Dan di RT saya sempat kuning beberapa hari, lalu sejak empat hari lalu sudah berubah ke hijau.

Pak RT sendiri sebelumnya diisolasi di Mes isolasi yang disediakan Pemkot (pemerintah kota). Dia positif terinveksi, juga anak dan isterinya, sekira sebulan yang lalu.

Sejak pak RT diisolasi itu, ada rengeng-rengeng di antara sesama warga, tentu soal pandemi. Saya memaklumi kalau warga capai dengan berbagai “tragedi” ini.

Dari hasil ngobrol ngalor-ngidul dengan sesama warga didapati, warga yang agak terdidik menyakini bahwa pandemi yang menghantam kita adalah murni virus mematikan. Ia hanya bisa dihentikan oleh vaksin, dan itu sebabnya mereka berharap bahwa vaksin akan segera didistribusikan kepada masyarakat, bukan sekedar aksi-aksi poles bibir di pusat sedang daerah tetap tak mendapatkan apa-apa. Di lain pihak, negara tak boleh cuma cuap-cuap membacakan laporan kematian saja dari atas sana. “Negara harus hadir memberikan suntikan moral atau modal”, begitu menurut warga yang terdidik ini.

Bagi warga lain yang kurang terdidik, omongan mereka bernada kritis menjurus curiga. Yakni, adakah kematian warga akibat virus ataukah kematian itu adalah ritual tahunan saban musim penghujan?

Jenis warga kedua ini jelas warga awam yang tidak tahu-menahu seluk-beluk masalah klinis. Mereka tahunya kematian sekonyong menghantam, dan seperti tak berhenti. Tak terbayang sebelumnya kematian akan sepadat ini. Dan yang mereka tahu kemudian, sebagai dampak dari pandemi, adalah macetnya segala sumber penghidupan. Negara memberlakukan jam darurat aktifitas, seperti tampak dalam PSBB, PPK, PPKM dan entah apa lagi. Ini pun berlarut-larut sejak awal 2020 silam.

Harapan-harapan masyarakat pun terus melayang bersamaan dengan melayangnya janji-janji normal dari Negara. Maka tak heran kemudian bila masyarakat jenis ini memandang keadaan terkini dengan pandangan acuh dan curiga. Belakangan, khusus di RT saya, jumlah penganut keyakinan kedua ini makin banyak saja.

Keputusan politik yang terkesan inkonsisten, berikut silang-sengketa pendapat di pusat yang kadang tak berujung dan lainnya menambah kelam padangan masyarakat. Hal tersebut masih ditambah, misalnya dengan tingkah pemerintah untuk “menindak” pandangan di luar pandangan resmi. Ketika masyarakat bermaksud menyumbang alternatif untuk menerobos pintu vaksin yang masih rapat, sumbangan ini malah dipandang penuh curiga. Sudahkah Anda menonton video Cak Nun dengan Pak Manu soal bambu apus itu? Videonya tak bertahan lama di youtube.

Sejauh itukah masyarakat menerawang? Tentu tidak. Hanya saja, leputan-letupan kisruh politik di pusat kini berdentuman hingga daerah dan masyarakat bisa menjangkaunya dengan harga sangat murah, lewat pesawat televisi. Dengan kata lain, kalau pusat berkehendak untuk menjadikan pandemi ini sebagai krisis kesehatan serius, mestilah pusat merapikan lajur politiknya, di mana kekisruhan sesungguhnya justru dimulai oleh barisan pemerintah pusat sendiri. Ingat keberatan Ribka Tjiptaning tentang vaksin sinovac yang menurutnya barang rongsokan itu?

Di RT saya, kematian menjalar dari rumah ke rumah. Juga ketakutan, kekuatiran, kegetiran-kegetiran.

Di malam hari selepas Isya orang-orang masih terus berdebat dalam soal yang sama, dengan anggota keluarga sendiri. Keterbelahan tak bisa dihindari. Namun, baik yang mendukung maupun yang menolak ide pandemi, semua sepakat bahwa kematian ini sudah mirip arisan yang terburu. Namun juga, baik yang mendudung maupun yang menolak, mereka sama-sama menyaksikan keabsenan negara lewat gugus tugasnya. Beberapa tetangga yang dinyatakan positif dan meninggal memang dimakamkan secara prokes, namun tak ada apa-apa prosesi itu: tak ada pemeriksaan, swap atau apapun yang menyasar anggota keluarga korban atau warga sekitar.

Yang disaksikan hanya bendera-bendera bisu itu, yang isyaratnya pun cuma masyarakat dapatkan secara rengeng-rengeng.

Saya, orang biasa di antara orang-orang awam itu, juga mulai bertanya: seriuskah pemerintah memberlakukan aturan-aturan? Seriuskah rengeng-rengeng tentang dana covid-19 yang dijadikan bancaan oleh oknum-oknum dokter? Pertanyaan-pertanyaan lain serupa bisa sangat panjang, dan berbagai pertanyaan tersebut bergulir dari omongan ke omongan saat secangkir kopi terasa lebih pahit ketika belanja bubuknya di warung kelontong.

Kematian bergelayut dari waktu ke waktu: tetangga, saudara dekat, atau kawan-kawan. Semua yang mangkat, mangkat dengan rasa capai yang sama yang masih menghujam dalam dada yang masih bertahan. Sedang kewaspadaan kita kian hari kian mengaret.

Tulisan ini pun bukan semacam kemurkaan atau kekesalan yang dimaksudkan untuk ditumpahkan kepada penyelenggara Negara. Tulisan ini tak lain merupakan pengalaman sendiri dan pengamatan langsung. Jika kemudian ada yang tersinggung setelah membaca, ketersinggungan itu adalah bagian dari yang mau saya sampaikan, jika pun boleh dimaksudkan demikian.

Jalan aman: anggap saja tulisan ini sebagai suara woro-woro di musala; untuk kerja bakti atau sejenisnya. Atau, suara rengeng-rengeng orang-orang selepas mengantar jenazah seperti biasa saya alami dan temui.

covid19 pandemi rengengrengeng

Related Post

Leave a reply