Menulis Masa Depan: Belajar Mencurahkan Gagasan

menulis masa depan

Oleh: DR. Farhan, M.Sos.I*

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ

“Abadikan ilmu dengan menuliskannya” (H.R. Ibnu ‘Abdil Barr).

Hybernasi –Dari manakah datangnya sebuah tulisan? Bagaimanakah cara mengundangnya? Pertanyaan seperti ini, atau yang sejenis, kerap menghantui pikiran dan menjadi momok yang menggagalkan niat untuk mulai mencurahkan gagasan ke dalam paragraf-paragraf.

A. Tantangan dan Peluang

Menjadi penulis yang bukan sekadar penulis tentu bukan perkara mudah. Penulis serius tentu paham bahwa menulis itu sama sukarnya dengan pekerjaan lain yang sama-sama digeluti secara serius, konsisten, dan dikerjakan dengan sepenuh hati.

Tantangan menjadi penulis, sejurus dengan itu, sama peliknya dengan tantangan yang harus dihadapi oleh seorang pebisnis, menteri, atau kiai. Menulis, dengan demikian, adalah bukan semata mendedahkan gagasan, merangkai kalimat, atau menerbitkan karya tulis. Dan lebih jauh, kepenulisan selalu berurusan dengan ketertiban berpikir, konsistensi terhadap perilaku dan etika ilmiah, juga ketabahan menghadapi ujian untuk menghindari popularitas. Menulis adalah lelaku spiritual yang meniscayakan pengembaraan jauh ke dalam ceruk-ceruk kesunyian dan kesunyatan.

Menjadi penulis, dengan demikian, adalah semacam kerelaan mengambil sikap lilin: rela terbakar demi menerangi; atau, rela mati agar yang lain tetap bisa bertahan hidup. Itu sebabnya pula, tugas kepenulisan –juga tugas kesarjanaan secara umum- tidak mendapatkan tempat yang layak dalam angan-angan, cita-cita, dan ambisi di dalam benak kalangan cerdik-pandai, lebih-lebih mereka yang hidup dalam lingkungan akademik.

Inilah tantangan dan peluang yang mesti digarap dan dijadikan lelaku intelektual oleh kalangan terdidik. Lalu, bagaimanakah cara memulainya? Di manakah starting point-nya?

 

B. Tiga Prasyarat Menulis

Menulis, secara umum, adalah soal kebiasaan. Memang, ini terdengar klise. Namun, kenyataan bahwa penulis yang baik adalah dia yang berusaha membangun kebiasaan menulis dengan sebaik-baiknya, itu tak bisa dibantah, bahkan oleh teori yang paling mutakhir sekalipun.

Benarkan hanya soal kebiasaan? Selebihnya, coba kita tengok tiga prasyarat di bawah ini:

 

1. Membaca Buku

Penulis yang baik umumnya memiliki daftar bacaan yang melimpah dan berkualitas. Bacaan berkualitas akan turut membentuk pola pikir, watak, dan perilaku para pembacanya. Akses untuk mendapatkan buku atau sumber referensi bacaan berkualitas kini sudah bisa dilakukan dengan sambil berselonjor kaki di teras rumah atau di tongkrongan, dengan hanya bermodalkan telepon pintar. Koneksi pertemanan di media sosial seperti Facebook, X, atau LinkedIn dapat kita andalkan untuk mendapatkan pengetahuan baru seputar buku-buku bagus atau artikel-artikel jurnal bergizi tinggi. Apalagi, banyak penulis dan pegiat literasi juga pegiat media sosial. Mereka pun kerap kali membagikan buku-buku terbaru, wacana yang sedang mendapatkan perhatian publik, atau sekadar berkelakar seputar sulitnya mengembangkan literasi di tengah serbuan telepon pintar, misalnya.

 

2. Membuat Catatan

Selepas membaca, tentu saja kita mendapatkan sejumlah informasi, pengetahuan, atau insight (pandangan) baru tentang suatu tema/objek kajian. Membuat catatan, lebih-lebih catatan kritis, akan sangat membantu mengembangkan sudut pandang dan cara berpikir. Apa, sih, catatan kritis itu? Bayangkan, teman-teman Anda sedang bergosip, lalu Anda ikut nimbrung, dan Anda pun turut membeberkan fakta-fakta terbaru soal objek gosip tersebut. “Pembeberan fakta-fakta terbaru” itu dapat dikatakan sebagai “catatan kritis.”

 

3. Mengambil Jarak

Mengambil jarak adalah sebuah sikap yang mengandaikan bahwa kita adalah subjek yang merdeka dan otonom –sebagai manusia seutuhnya. Siapakah manusia seutuhnya? Yakni, manusia yang memiliki indera, pikiran, dan pilihan sikap. Sebagai misal, Anda sedang pergi berbelanja ke pasar untuk keperluan dapur. Di pasar, tentu saja Anda memilah-pilah pelapak, tawar-menawar harga dengan mereka, dan melihat-lihat kualitas dagangan. “Aktivitas-aktivitas di pasar” inilah yang secara serampangan dapat disebut sebagai “sikap mengambil jarak”: Anda berpikir, berinteraksi, dan memutuskan sesuatu.

Tiga prasyarat di atas adalah jumlah paling minimal yang mesti dipenuhi: membaca buku itu penting karena ia membukakan cakrawala berpikir; membuat catatan itu berguna agar Anda selalu dalam presisi; dan, mengambil jarak itu penting karena ia membuahkan objetivitas dan kritisisme.

 

C. Mulailah Menulis

Kapankah waktu terbaik untuk mulai menulis? Jawabnya: ketika Anda mulai memikirkannya. Caranya? Terdapat beragam cara yang dapat Anda tempuh, misalnya  dengan terlebih dahulu membuat outline. Yakni, pokok-pokok ide/gagasan yang hendak Anda curahkan di dalam sekujur tulisan.

Di luar itu, Anda pun bisa memulainya dengan membuat narasi eksplanatif tentang daftar kegiatan harian, misalnya menuliskan kegiatan-kegiatan yang dimulai dari bangun hingga tidur lagi. Atau, Anda menuliskan narasi argumentatif tentang, misalnya, maraknya jukir (juru parkir) liar yang memungut iuran dari pengendara seenaknya sendiri dan agaknya tidak ada penyikapan serius dari pemerintah. Serta, contoh-contoh lain yang Anda dapat pungut dari beragam aktivitas pengguna media sosial, kecenderungan masyarakat pada popularitas yang diperoleh secara instans, dan seterusnya.

Dengan kata lain, menulis itu sejatinya adalah memindahkan aktivitas verbal ke dalam bangunan teks. Semudah itu, bukan?

 

D. Lalu, Bagaimana?

Ketika Anda memutuskan untuk menulis, sesungguhnya Anda sudah berada di jalur yang tepat untuk meneropong masa depan. Sulit dibayangkan, penulis setenar Alvin Toffler (1928—2016), Francis Fukuyama (1952— ), atau Youval Noah Harari (1976— ) mendapatkan gelar futurolog tanpa menulis. Maka, menulislah!

 

*Dosen Prodi S1 KPI – FAI UNUJA, Paiton, Probolinggo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *