Kembali ke Pesantren, Kembali ke Legacy Leluhur

1037 views

Pesantren adalah legacy leluhur pembawa risalah agama yang mula-mula. Ia sudah ada sebelum Republik berdiri. Dengan perkataan lain, pesantren adalah produk lokal yang mengerti bagaimana melokalisir agama hingga dari rahimnya terlahir tanah air, bukannya dengan dalih agama yang sama malah hendak merobohkannya. [mhdc]

Kembali ke Pesantren, Kembali ke Legacy Leluhur

Usia pesantren lebih tua dari usia Republik. Pesantren di Jawa Timur, Pondok Pesantren Sidogiri di Pasuruan misalnya, telah berusia setengah abad lebih (Kredit foto: opop.jatimprov.go.id).

Tahun 2008 saya sudah empat tahun tinggal di pesantren, dan saya diamanati tanggung jawab sebagai wakil ketua pengurus. Tugas “kedinasan” saya berhubungan dengan bidang kehumasan.

Maka saya sering turba (turun ke bawah) ke masyarakat, ke kampus-kampus, atau menghadiri undangan dari lembaga lain.

Di pesantren sendiri, saya seringkali diminta pengasuh untuk sekedar menemui atau menjamu para tamu. Karena pengasuh adalah rektor sebuah perguruan tinggi Islam yang sedang berkembang di pesisir utara Jawa, juga mantan dosen pegawai negeri di kampus Islam negeri, maka para tamu yang datang umumnya adalah kiai, dosen atau civitas akademika. Pengasuh sendiri, saat terakhir saya di pesantren, adalah guru besar filsafat, persisnya filsafat ilmu.

Dari beberapa tamu yang sering saya temui, ada beberapa di antaranya yang menarik hati saya. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa semester akhir, yang oleh karena sedang giat berislam dengan belajar kepada para mentor senior, mereka tak kunjung menyelesaikan Tugas Akhir kuliahnya. Mereka pun jadi punya alasan mulia untuk molor. Mendalami Islam, sesuatu yang tampaknya baru mereka, merupakan kemuliaan ukhrawi yang tak bisa ditukar dengan urusan duniawi -skripsi.

Akar Kedangkalan Keberagamaan

Dari mana datangnya kedangkalan keberagamaan? Salah satunya adalah yang saya sebutkan di atas: giat beragama, namun berpuas belajar di mentor. Lalu, mengeklaim diri sebagai yang paling otoritatif sambil menolak dialog.

Kalau kita kilas balik, di tahun 2008an itu di kota-kota besar dapat dengan mudah kita jumpai selebaran atau pamflet bernada provokatif; di masjid-masjid, di papan-papan pengumuman, atau di halte-halte. Di antara yang paling ofensif adalah yang dibagikan bersamaan dengan jamaah jumat turun dari masjid. Isinya: psikologi kebencian. Yakni bahwa ada pihak yang selalu menyerang dan menindas berhadap-hadapan dengan pihak yang selalu ditindas. Penjajah-penindasnya adalah orang Barat, sedang yang ditindas adalah umat Islam. Maka, mudah saja kita temui judul-judul bombostis semisal, “saatnya umat Islam bangkit dari penindasan kapitalisme”.

Logika selebaran-selebaran itu mudah ditebak: tulisan-tulisan itu cuma berayun-ayun di antara lembing-lembing teori konspirasi; di sana tak ada data keras, kerangka metodologi untuk mencapai hipotesis, atau analisis yang mumpuni. Tujuannya, tak lain, adalah membangkitkan kebencian.

Tahun 2008, di lain pihak, adalah masa yang keras: perekonomian dunia sedang terguncang hebat dan riak-riak menuju Arab Spring bersiap-siap naik. Beberapa negara, oleh karenanya, terancam ambruk; sedang yang masih berdiri pun harus tertatih-tatih melangkah agar rob krisis tak sampai turut menghanyutkan asa masyarakat. Negara-negara maju, kawasan yang dihuni masyarakat rasional, cenderung lebih tegar karena mereka hanya menghadapi persoalan gelombang pasang krisis ekonomi saja. Sedangkan negara-negara berkembang, kawasan yang berpenghuni masyarakat emosional, harus menghadapi berlipat-lipat persoalan dalam negeri yang kadangkala tak mudah diurai tali-temalinya.

Secara sederhana, jika gelombang protes di negara-negara maju mengusung isu di depan mata yang pasti; sebaliknya, protes-protes di negara berkembang justru mengusung tema yang lain sama sekali. Kejengahan kepada kepelikan keadaan justru ditumpahkan dalam bentuk pengambinghitaman pihak lain yang berujung pada provokasi untuk tidak memercayai pemerintah. Berikutnya, jika diseminasi isu tersebut berhasil mengambil simpati publik, akan bergulir apa yang lebih fundamental: ketakpercayaan kepada konstitusi. Dan ketakpercayaan kepada konstitusi merupakan pintu masuk bagi substitusi dasar dan format negara.

Psikologi kebencian yang awalnya hanya dalam bentuk selebaran-selebaran kini sudah jadi konsumsi dan mendekam dalam bawah sadar kolektif, dan itu kian sulit dikendalikan. Di lain pihak, di lapangan, harapan perbaikan dalam politik, ekonomi dan dan lainnya yang masih buram turut memperkeruh persepsi masyarakat emosional, lebih-lebih mereka yang sudah terpapar isu.

Cara inilah yang acap dipakai oleh kelompok fundamentalis berbaju pelajar, yang seperti saya sebutkan di atas: menggebu dalam keberagamaan, tetapi keberagamaan yang tertutup. Mereka menutup pintu rapat bagi pendapat lain yang berbeda dan berseberangan. Selain yang bersumber dari Alquran dan Hadis adalah bukan pendapat. Mereka lalu mencipta jargon.

Jargon semacam kembali ke ajaran otentik Alquran dan Sunnah/Hadis menggeliat di pasar wacana keislaman yang, sekali lagi, ditembakkan lewat pengeras selebaran, pamflet dan lainnya. Muslim perkotaan, di lain pihak, mudah sekali terjebak. Muslim perkotaan, sebagaimana kita maklum, memang terdidik secara memadai dalam bidang-bidang kekhususan sains dan lainnya, tetapi kurang awas dalam jebakan berzirah agama. Muslim perkotaan adalah konsumen kultur Islam pop, menurut Husein Ja’far Al Hadar dalam buku kumpulan esai “Menyegarkan Islam Kita”. Terdapat mistik dan magnet yang amat kuat ketika seseorang misalnya berbicara agama, dan di sela-sela itu dikutipkan ayat atau hadis.

Kembali ke Pesantren

Bagimana cara memulihkan? Tak lain, salah satunya, adalah mendekatkan kultur keberagamaan pesantren kepada khalayak yang lebih luas, khususnya di wilayah perkotaan. Memang, variabel ektremisme itu tak pernah stabil: ia bisa menerpa siapa saja dan dari kalangan mana saja, seperti diungkap oleh beberapa studi tentang ekstremisme, radikalisme, dan yang sepadan. Namun, dalam konteks Indonesia, satu variabel jelas: kedangkalan beragama.

Pesantren adalah legacy leluhur pembawa risalah agama yang mula-mula. Ia sudah ada sebelum Republik berdiri. Dengan perkataan lain, pesantren adalah produk lokal yang mengerti bagaimana melokalisir agama hingga dari rahimnya terlahir tanah air, bukannya dengan dalih agama yang sama malah hendak merobohkannya.

islam islamkota kembali ke pesantren legacy leluhur pesantren

Related Post

Leave a reply