Jahlul

1072 views
Jahlul

Sumber: pexels.com

Jahlul merupakan salah satu kawan saya yang unik. Kami cukup akrab satu sama lain. Dia kadang bertandang ke rumah untuk sekedar mengobrol ngalor-ngidul. Saya pun kadang ke rumahnya, untuk sekedar menghabiskan secangkir kopi.

Mengobrol dengan Jahlul selalu saja membuat saya terpingkal. Entah karena mimiknya yang terlampau serius, atau oleh cerita-ceritanya  yang membuat dia bingung sendiri. Dia memang kerap melempar cerita, dan dia kebingungan ending dari ceritanya. Jika sudah begitu, kami pasti tertawa-tertawa.

Terkait tampangnya, dia memang kelihatan tua sekali. Entah sebab apa tampangnya bisa tampak begitu lebih tua dari umurnya sendiri. Orang yang baru kenal mungkin akan segera menaksir kalau dia angkatan tua. Kelahiran 70-an akhir, kira-kira. Padahal, dia terpaut empat tahun lebih muda dari saya.

Dulu, saya mengenal Jahlul lewat seorang kawan, yang kebetulan kawan ini kawan Jahlul juga. Ceritanya, suatu saat saya ada janji ketemuan dengan kawan ini. Ketika ketemuan, dia bersama Jahlul. Jadilah saya kenal Jahlul. Bahkan, kemudian saya lebih akrab dengan Jahlul ketimbang kawan tadi.

Di samping kesukaannya bercerita yang lucu-lucu dan cerita yang kehilangan ending, Jahlul juga orang yang serius, lebih-lebih dalam urusan yang menyangkut Agama. Dia mudah sekali tersinggung dan akan murka semurka-murkanya manakala dia mengetahui ada seseorang telah melecehkan Agamanya. Bagi Jahlul, Agama itu urusan serius. Tak boleh dibuat bahan guyonan, apalagi nadanya sampai mengarah ke pelecehan. Tentu saja pelecehan itu pelecehan versi dia. Persisnya, pelecehan karena keterbatasan pengetahuan Jahlul. Jadi, semua yang tidak cocok dengan pikirannya langsung dia murkai.

Ini salah satunya.

Ketika kelurahan tempat saya tinggal mengadakan gawe untuk acara 17-an, dia sengaja datang untuk ikut menyaksikan. Dia bahkan datang lebih awal. Maklum, sekalipun sudah cukup lama di tanah rantau, Jahlul belum sekalipun menyaksikan kemeriahan 17-an.

Kenapa dia kali ini semangat datang, itu tak lepas dari “provokasi” saya.

“Lul, masak ente tidak mau sekalipun datang. Ini kan acara kita. 17-an perayaan kita. Kita yang tidak ikut memeriahkan, apa iya tidak turut menyaksikan saja?” kata saya pada Jahlul suatu ketika.

“Menurut kamu, 17-an bukannya acara mengenang pahlawan. Tapi, orang-orang itu kok malah pesta pora?”

“Menurut saya, itu tergantung persepsi orang, Lul. Maksudnya, 17-an kan tidak hanya identik dengan pertempuran. 17-an ya, kemerdekaan. Pernyataan kemerdekaan, yang lalu kita kenal sebagai hari proklamasi. Persis pada tanggal 17 ini Sukarno memproklamirkan kemerdekaan kita”.

“Lho, iya kah?”

Begitulah Jahlul. Dia menganggap bahwa orang harusnya paham bahwa 17 Agustus bukan ajang pesta. 17 Agustus adalah hari kesedihan. Persis hari Asyura bagi kaum muslimin. Karena, sebelum ke tanggal 17 itu, bangsa kita bertempur habis-habisan. Jahlul tidak melihat bahwa 17 Agustus 1945 itu sebagai momen kemenangan besar. Dan oleh sebab itu, rakyat mengingatnya denga pesta-pora. Tentu, apabila ada yang sepandangan dengan Jahlul itu sah.

Namun berpandangan begitu, nyatanya Jahlul tetap cukup menikmati suguhan atraksi barongsai, tari Jawa, tabuhan gendang, dll di acara karnavalan kali ini.

Pemikiran macam Jahlul ini tak aneh-aneh amat sebetulnya. Banyak kita lihat di media, orang begitu beringas mengharam-haramkan sesuatu, mengafir-ngafirkan pihak lain, atau bahkan menjahannamkannya. Tapi, di lain kesempatan, orang tersebut malah berebut tempat untuk sekedar nonton dan menikmati, sepersis Jahlul.

***

Hari-hari ini jagad internet dipenuhi tagar #tolakfilmthesantri. Jahlul tentu mengikuti. Dan, tentu juga Jahlul langsung menghubungi saya. Sepenegetahuan dia, saya memang cenderung liberal dan membela pikiran-pikiran bebas.

“Man, sudah tahu kan yang lagi trendy?” di ujung telpon, selepas mengucap salam.

“Iya, tahu. Ada apa?” Saya pura-pura bertanya, supaya memberi peluang bagi Jahlul untuk memaki-maki saya.

“Saya sudah nonton cuplikannya. Film itu gak layak deh. The Santri tidak mencerminkan santri. Kau lihat, ada adegan pacaran, kirim tumpeng ke gereja …”

“Apa masalahnya?” Saya memotong.

“Saya tahu, kamu akan membela. Kamu kan begitu dari dulu. Semua orang ke barat, kau ke timur sendirian. Begitu orang ke timur, kau cuek saja. Sebenarnya kamu itu di pihak mana, sih? Ketika orang ramai-ramai ke Monas, kamu bukannya ikut teriak takbir, malah bilang tahlil …”

Karena saya tahu arah pembicaraan itu ke mana, hape saya letakkan. Saya biarkan dia nyerocos di situ. Hape saya tinggalkan tergeletak di depan tipi, saya ke kamar kecil, buang air.

Begitu dari kamar kecil, saya ambil kembali. Jahlul sudah diam. Saya pun ngomong,

“Iya, lalu?”

“Kau itu harus jelas. Ada di posisi siapa, kau?”

‘Ah, kena bogeman saya,’ saya berbisik sendiri dalam hati.

“Sebentar, sebentar. Mana nih, yang harus saya komentari”

“Nggak. Pokoknya, kau harus jelas. Di mana posisimu dalam kasus ini. Ini umat Islam murka semua, loh. Film itu nyata-nyata telah melecehkan kaum santri. Tidak bisa tidak, saya harus bertindak.” Di ujung sana, suaranya agak kaku. Saya tahu, dia sedang murka. Emosinya lagi lagi naik.

“Lul, yaapa, sih. Jelaskan dulu duduk perkaranya. Dengan jernih, jelas. Biar saya pun tahu saya harus bersikap seperti apa.”

“Kau tadi kan sudah dengar semuanya.”

“Begini, ya. Kita mulai dari filmnya.” Saya mencoba bersiasat. Ngomong dengan tenang, dan datar.

“Sudah jelas begitu, kok masih mau diomongkan lagi. Apanya yang mau diomongkan?”

“Begini, khi, akhi. Ente tau tidak, filmnya sudah tayang?

“Kan emang sudah”

“Akhi, filmnya belum tayang, akhi. Gef, antum? Filmnya belum tayang.”

“Ah, masak, iya?

Lho, masih tanya. Gini, deh. Ente brosing-brosing dulu di Mbah. Minta penjelasan. Sudah tayang apa belum.”

Oala, kirain sudah.”

Nada biacara Jahlul merendah. Sepertinya dia sudah tidak seemosi sebelumnya. Maka, kesempatan ini saya gunakan untuk ngomong.

“Begini, lho, khi”, saya mencoba memulai dengan paswornya dia, akhi. Semarah apapun dia, kalau saya sudah memanggil dengan paswor komunitasnya, dia mereda. Mungkin, ada semacam magnet dari kata akhi itu. Entahlah. Saya juga mengepas-ngepaskan dengan lingua franca komunitas dia.

“Pertama, ana Islam. Syahadat ana persis sama dengan syahadatnya ente. Kedua, Nabinya ana sama dengan Nabinya ente. Sampai di sini kita sepakat?”

“Iya, sepakat, khi.” Rupanya emosinya kali ini benar-benar gembos. Saya lalu melanjutkan.

“Anu, khi. Selagi syahadatnya sama, tak elok saling tuduh. Bahkan menurut hadis yang pernah saya baca di Arbain Nawawi, tuduhan kafir, misalnya, jatuh kepada penuduhnya sendiri.”

“Kamu tahu dari mana ada hadis begitu?”

“Jelek-jelek begini saya lulusan pesantren, khi. Saya pernah mengaji.”

Ketika saya menyebut pesantren, dia seperti kehilangan argumentasi. Saya tahu. Sebab, ketika menanyakan pertanyaan tadi, suaranya agak gemetaran. Mungkin dia malu, atau sungkan. Selama saya berkawan dengan dia, saya memang tak sekalipun menyebut-nyebut latar belakang. Bagi saya, latar belakang itu tidak penting-penting amat. Yang terpenting adalah: baik apa jahat manusia. Hanya itu. Urusan dia menyembah Tuhan atau tidak sama sekali, itu urusan dia. Lagian, Tuhan itu mau disembah apa tidak, tetap tidak berkurang keagungannya.

Saya masih melanjutkan bicara.

“Jadi, begini, khi. Maaf, lho, khi. Saya tidak bermaksud menggurui.”

“Islam itu luas sekali. Betul, Islam mengatur segala hal, termasuk isi kehidupan yang paling intim dan privat. Untuk mengetahui luasan Islam yang begitu, perangkatnya banyak sekali. Ulama lah yang menciptakan perangkat-perangkat itu. Misal, untuk mengerti al-Quran secara bahasa, sekurangnya ente kudu ngaji Nahwu-Sharraf. Di samping keduanya, ente pun kudu ngaji Mantiq-Balaghah. Ini diperlukan untuk mengetahui lebih dalam sisi sastrawi al-Quran. Untuk fikih, akidah, dan lain-lain, kitabnya lebih banyak lagi.”

Saya sengaja tidak menyebut tasawuf. Sebab, orang macam Jahlul tidak akan menerima jenis kitab ini. Dia bakal mengira, tasawuf itu kitab klenik yang menjurus ke zindiq. Dan sambil membetulkan posisi hape yang mulai panas, saya melanjutkan.

“Nahwu, Sharraf, Mantiq dan Balaghah itu bukan pelajaran enteng. Selain kitabnya banyak, pembahasannya juga njilmet.”

“aewa, aewa, khi. Kita teruskan dalam waktu dekat, ya. Saya mau ke musala. Ada kajian. Yang dari antum ini nanti saya tanyakan ustaz-ustaz saya di majelis.”

Jahlul memang begitu. Apapun urusan dia di luar rumah, kalau jam majelisnya sudah tiba, dia akan cepat-cepat ambil langkah seribu. Motor bututnya digenjot sampai gas penghabisan. Entah karena dia takut ustaznya atau yang lain, saya tidak tahu. Yang pasti, dia berlari dengan motornya seperti sedang diburu malaikat Izroil.

cerbung jahlul

Related Post

Leave a reply