Jahlul Mainan Medsos

1637 views
Jahlul Mainan Medsos

Sumber: pngegg.com

Di samping kekurangan-kekurangan yang mencolok dan, kadangkala, malah menyusahkan, saya tetap bangga jadi warga Negara Indonesia. Kekurangannya, ya, kita tahu bersama, banyak sistem dibangun bukannya demi menyenangkan, malah menyusahkan rakyat. Contohnya yang baru berlangsung. RUU yang jadi polemik itu.

Bahagianya? Banyak sekali. Hidup di Indonesia itu nikmat. Apa-apa masih dapat kita lakukan dengan bebas. Makanan apa saja ada. Tempat liburan gratis banyak. Dan macam-macam. Maka, tidak salah kalau Syekh Azhar ketika kunjungan ke mari di tahun 60an menyebut, Indonesia adalah cipratan surga di bumi. Semuanya. Ya, alamnya. Ya, manusianya.

Kalaupun terdapat kerusakan, perusaknya tentu bukan manusia. Tetapi politisi atau minimal pejabat.

Bagaimana kalau ada orang mengaku sebagai pembela atau pejuang nasib sesama? Tunggu dulu. Lihat, siapa yang berbicara. Kalau yang berbicara begitu orang kecil, kita pasti percaya. Tapi, kalau yang bicara, sekali lagi, dari orang berpangkat, kita tahan dulu untuk percaya. Bukannya curiga. Tapi, kita sudah lama mengenali tipe orang begitu. Ya, dia kampanye-kampanye sendiri, jadi-jadi sendiri, kaya-kaya sendiri. Lalu, dia mati dalam kesendirian, setelah sebelumnya dikerubungi berbagai macam tulah.

Nah, kalau yang berbicara orang kecil, orang sesama-senasib dengang kita, kita wajib husnuzon. Orang kecil adalah manusia yang serba terbatas, mulai pengetahuan sampai kekayaannya. Contohnya Jahlul.

***

Ketika jarum jam baru saja beranjak dari angka tiga dini hari, pintu rumah ada yang menggedor-gedor. Kontan, saya kaget bukan kepalang.

Dengan kepala agak berat saya menuju pintu. Sambil berjalan ke arah pintu, pikiran saya ditimbuni perasaan kesal luar biasa. Bisa dibayangkan, betapa kagetnya saya yang baru terlelap setelah semalaman begadang. Kalau kemudian saya marah, pasti otomatis. Dan, manusiawi.

‘Bajingan mana pagi-pagi begini sudah keluyuran. Apa orang ini sudah gak enak makan, ya?’ Saya menggeram.

Assalamualaikum, khi

Ah, si Jahlul. Tak mungkin salah. Sekalipun otak masih agak linglung, tapi mengenali suara Jahlul bukan perkara sulit. Ketika pintu saya buka, wajahnya sudah nampang di sana.

Waalaikumussalam” Saya menjawab asal menjawab.

“Maaf, khi. Kajian majelis saya baru aja selesai. Dekat-dekat sini lokasinya. Mau pulang, saya kok waswas. Jadi, maksudnya saya mau numpang tidur.”

“Ah, ente masih muter-muter. To the point aja kek kalau mau numpang. Bikin orang kesal aja.”

Jahlul saya bimbing ke kamar sebelah, kamar yang memang saya siap khusus untuk tamu atau keluarga sendiri yang mau menginap.

“Kamu tidur di sini, ya. Ini ada selimut dan sarung, ente pakai.”

Tanpa bilang iya atau terima kasih, dia langsung nyungsep aja di kamar itu. Kepala dan seluruh badannya dia masukkan ke dalam selimut, sampai tidak ada yang kelihatan, kecuali di bagian tengah yang naik-turun. Tentu itu bagian perut, bukan yang lain.

Tidak sampai lima menit Jahlul sudah mendengkur.

‘Benar-benar deh. Saya benar-benar mendapat cobaan malam ini. Tadi Jahlul sudah mengagetkan tidur saya. Kini dia malah ngorok,’ Saya hanya bisa mengeram kekesalan sendirian.

***

Selepas sarapan bersama di rumah, Jahlul tidak langsung pulang. Tampaknya dia punya keperluan lain.

“Men, saya baru beli hape baru. Smart Phone, Men. Saya gak tahu cara maininnya.”

Memang, sewaktu semalam tiba di rumah, dia membawa tas kecil. Agak aneh sebetulnya dia dengan tas itu. Sebab, setahu saya, dia tidak sekalipun bawa barang lain selain kopiah dan “celana seragam”. Seragam, persisnya celana yang mirip satu dengan yang lain. Dia memang selalu mengenakan celana kain seukuran, yang semuanya di atas mata kaki. Dan perkakas itu biasanya dia untel-untel, lalu dimasukkan ke jok motor.

Kalau bukan barang bawaan, yang khas dari Jahlul adalah jenggot beberapa lembar di dagunya. Terkait jenggotnya, suatu saat pernah saya kerjain. ‘Mbok ya jenggot yang beberapa lembar itu sesekali ente taruh lah. Jenggot itu justru mengganggu pemandangan’.

Kalau sudah saya gojloki begitu, dia langsung bersungut-sungut.

Maka, sebelum sempat dia marah, saya keluarkan jurus kedua. ‘Asli, ente kelihatan lebih gagah, ganteng, dan muda beberapa tahun’. Mendengar respon cepat seperti ini, dia akan langsung menyeringai. Wajahnya berbinar-binar penuh percaya diri.

“Ini hapenya, Men.” Jahlul menyodorkan hape bermerek dari tipe terbaru.

“Mau saya apakan ini hape. Langsung saya banting apa bagaimana?”

“Kau itu betul-betul, ya. Sudah tahu saya ngumpulin fulus berbulan-bulan untuk ini malah mau main banting aja”

“Eh eh eh”

Hapenya saya hidupkan. Saya utak-utek seperlunya.

Lalu, karena hape ini dari generasi terbaru, yang punya fitur face unlock, Jahlul saya kerjai lagi.

Face unlock gak mau sama jenggot, khi. Jenggotnya ditaruh dulu, ya.”

“Serius kau, Men?”

Saya pun hanya ketawa-ketawa.

Setelah semua setelan saya kerjakan, dia menyodorkan kartu perdana. Kartu khusus internetan, kata Jahlul.

Begitu utak-utek selesai, saya kira sudah selesai tugas saya, juga keperluan Jahlul. Eh, tidak. Jahlul memasukkan tangannya ke tas yang dia bawa. Entah apa yang dia rogoh. Agak lama Jahlul ngunyel-ngunyel tasnya. Setelah dirasa dia mendapatkan sesuatu yang dia perlu ambil, dia ngomong perlahan, bahkan pelan sekali.

“Men” Dia berbicara setengah berbisik.

Saya cuek saja. Pura-pura tidak mendengar. Karena tahu saya hanya cuek, dia agak mengeraskan suaranya, kemudian.

“Saya mau mainan Fesbuk, Men”

Lha, sejak kapan ente mau murtad?”

“Jangan gitulah, Men. Ini kan demi jihad juga.”

“Demi jihad?”

Dia lalu bercerita. Katanya, majelis tempat dia mendapat bimbingan Agama sedang giat “berjihad” melalui Medsos. Akhwan-akhwat diwajibkan punya akun media sosial. Lewat akun media sosial ini, kemudian, mereka diminta untuk menyebarkan hasil kajian di majelis, entah berupa video atau tulisan. Cuma, ya, karena Negara membuat aturan ketat terkait konten medsos, beberapa bagian ceramah harus disortir. Ustaznya sendiri yang bertindak sebagai “editor”.

“Oke”, saya bilang.

“Apanya yang oke, Men?”

“Mau berjuang, ya, berjuang saja. Lahannya banyak yang bisa ente perjuangkan. Tapi, menurut saya, penggunaan kata Jihad itu berlebihan. Kayak mau perang aja.”

“Kan dunia emang sudah tidak menginginkan kita, Men”.

“Halah, jangan mengada-ada. Saya baik-baik saja, kok.”

Mendapati tanggapan saya yang cenderung meremehkan itu, Jahlul seperti mendapatkan tenaga untuk menghujani saya dengan keyakinan-keyakinan dia. Persisnya, ya, keyakinan yang dia dapatkan dari majelis dia sendiri. Bukan keyakinan orisinal sebagai hasil permenungan, apalagi pemikiran.

Namun, sebelum sempat Jahlul berbicara, saya sudah mendaului.

“Mbok, ya, sudahlah. Kalau ente sekarang mau ke pasar, sana ke pasar. Ente masih jualan, kan?”

“Eh, iya Men”

Dari air mukanya, sebetulnya Jahlul punya banyak unek-unek yang mau dia keluarkan. Berhubung bersamaan dengan itu istri saya keluar dari kamar, dia pun urung. Entah malu atau yang lain, saya tidak tahu. Kandang, dia memang tak akan ngomong banyak kalau ada orang lain, selain saya dan dia sendiri, tentu.

“Nah, sana pergi. Ini sudah agak siang. Ingat, ya, nanti di pasar ente gak usah banyak tanya. Pelanggan ente mau kresten apa kejawen, gak usah tanya. Yang penting jualan ente laku. Udah, itu aja.”

Dengan memasang wajah agak masam, dia bergegas keluar rumah dan mengeluarkan motor bututnya dari parkiran. Saya tahu dia memendam sesuatu. Saya cuek saja.

cerbung jahlul

Related Post

Leave a reply