Jahlul Bicara Rokok

797 views

Desas-desus tentang naiknya harga rokok makin hari makin kencang. Berbagai broadcast tentang kenaikan itu bertebaran dari satu ke lain WAG (WhatsApp Group). [mhdc/cer.]

Jahlul Bicara Rokok

Poster No Smoking dijumpai di mana-mana, bersamaan dengan kampanye-kampanye antirokok. Tapi, dia tetap bisa beredar dan diperjualbelikan, bahkan legal. Ajib ! (Kredit foto: posterphotos.com)

Bagi yang bukan perokok, kenaikan itu tentu bukan berita. Atau, berita tersebut tetap berita, namun membacanya sambil nyengir dan berujar dengan enteng, misalnya, ‘mampus kau para perokok’. Dan bagi para perokok, yang lebih memampuskan tentu saja bukan rokoknya, melainkan kenaikan harga tersebut. Seperti kawan saya waktu beli rokok.

Suatu saat, kawan perokok pergi ke toko untuk membeli rokok. Sesaat setelah dia mengeluarkan dompet untuk membayar uang rokoknya, dia mendapati bahwa dompetnya kosong melompong. ‘mampus saya’, katanya pelan.

Kalau saja kelak harga rokok sengeri di broadcast-broadcast tak bertuan itu, para perokok akan benar-benar dibunuh, sekali lagi bukan oleh rokok, melainkan oleh harganya. Jadi, kalau rokok membunuhmu, maka naiknya harga menebasmu, seketika. Kalau kelak Kemenkes mendapati kenaikan serangan jantung, impotensi, dan gagal panen yang menggila, kenaikan harga rokok itu unsur utama.

***

“Pemerintah ini aneh”, suara Jahlul memecah keheningan di antara kami.

Hingga sesiang ini, saya dan Jahlul hanya nongkrong, ditemani kopi pahit dan kacang rebus khas kampung Jahlul, di rumah kontrakan Jahlul. Suasana kemarau membuat Jahlul malas-malasan. Dia tidak ke pasar, atau kulakan barang yang hendak dia jual lagi keesokan harinya. Karena saya tahu jam malasnya, maka tanpa WA atau telepon pagi-pagi selepas sarapan saya langsung menuju rumahnya.

Dalam hal bermalas-malasan itu Jahlul memang agak berbeda dengan orang kebanyakan. Kalau orang kebanyakan biasanya bermalas-malasan karena dingin dan gerimis di musim hujan, Jahlul tidak. Justru terik mataharilah yang dia membuat malas.

Mungkin hal tersebut bisa dimaklumi: Jahlul berasal dari daerah panas. Jadi, dia tidak mau kepanasan yang terlalu lagi selain di rumahnya sendiri.

“Maksudmu aneh itu bagaimana?” saya penasaran. Jarang-jarang dia ngomong kritis. Setidaknya, permulaan kalimatnya memperlihatkan kekritisan.

“Rokok itu sebetulnya legal apa ilegal, Men?” dia malah balik bertanya.

“Ya, saya gak tahu, Lul. Orang merokok itu gak nunggu UU atau fatwa MK. Selama ada tembakau, ya merokok. Atau, dan ini yang paling menggembirakan para perokok: undangan merokok”

“Kau ini berhalusinasi, Men”

“Mending berhalusinasi daripada menanyakan pertanyaan gak berkualitas, seperti pertanyaan ente tadi”

“Saya kan bertanya apa adanya, Men. Begini, lho, Men. Sejak dulu rokok dibicarakan terus-menerus. Entah harganya, penyakitnya, atau apa lah yang lain. Masalah harga, okelah saya gak komen. Tapi, masalah peyakitnya itu, lho”

Sampai di situ, Jahlul menunjukkan kemantapan suara, diikuti mimik muka tua khas Jahlul di saat serius. Mungkin saja dia memang mengikuti wacana seputar rokok. Atau, jangan-jangan dia mulai belajar merokok. Agak sulit menyimpulkan, orang yang banyak bicara rokok tanpa merokok. Kemungkinan lain, ya pemerhati rokok. Tapi, rasa-rasanya nol persen Jahlul jadi pemerhati tiban, sebagaimana nol persen juga dia jadi perokok.

Pemerhati rokok non-perokok yang akhirnya merokok, setahu saya adalah Mohammad Sobary, budayawan itu. Saya pernah membaca esai beliau tentang rokok. Esai itu menarik, khususnya bagi saya yang hanya aktif merokok, tapi pasif membaca perkembangan isu rokok.

Bagi Sobary, tembakau dan rokok berada di pusaran elit ekonomi global. Banyak manusia, lembaga atau bahkan negara yang punya kepentingan tertentu dengan industri rokok. Untuk lembaga, Sobary misalnya mencurigai Bloomberg. Menurutnya, lembaga ini sejak dulu kerjasama dengan WHO, dan di belakang WHO berdiri korporasi-korporasi sumber funding operasional program-programnya. Tujuannya apalagi kalau bukan melibas industri tembakau dalam negeri. Setelah terlibas, baru para korporat itu menancapkan motif ekonominya. Rokok elektrik itu salah satunya.

Dengan kata lain, rokok dibunuh atas nama rokok. Pendeknya, perang bisnis.

Saya tidak tahu, Jahlul membaca esai ini apa tidak. Saya juga tidak tahu Jahlul mengikuti pembelaan mendiang WS Rendra di MK pada tahun 2008, juga situs-situs pembela martabat rokok, semisal Komunitas Kretek.

Sekalipun saya tahu hilir argumentasi Jahlul, saya tetap tertarik menyimak pendapatnya.

“Bungkus rokok menjelaskan, rokok dapat membunuhmu …”

“Iya, lalu?” saya memotong

“Kenapa ente tetap merokok, Men?”

“Ya, karena masih ada yang menjual rokok. Perlu ente ketahui, ya. Saya ini perokok pasif. Rokoklah yang datang ke tangan saya. Karena rokok mendatangi tangan saya, tugas saya adalah membakar dan menghabiskan asapnya …”

“Maksud kau ini apa, sih, Men? Saya gak paham” kali ini dia yang memotong.

“Terus, maksud ente tanya, ‘kenapa kau masih merokok setelah tahu rokok mengandung penyakit’. Ente ini sebenarnya mau bilang negara yang aneh apa saya yang gendeng?”

“Oh, iya, Men. Sori, Men”

“Makanya, ente merokok biar encer”

Mendapati jawaban menyudutkan begitu Jahlul bersungut-sungut. Tapi, tetap saja dia dibuat mati kutu. Ya, mendebati perokok dengan tema rokok adalah tindakan bunuh diri, melebihi tindakan bunuh dirinya merokok itu sendiri.

Jahlul menjelaskan kemudian, sikap negara terhadap rokok itu aneh. Di satu sisi negara melarang-larang orang merokok, namun di sisi lain negara juga yang menjualnya secara bebas-terbuka. Toko mana pun boleh menjual, dan otomatis siapa pun boleh membeli. Peringatan bahaya merokok di bungkus rokok malah buang-buang anggaran. Huruf-huruf yang tertulis dan gambar orang dengan penyakit menyeramkan di bungkusnya jelas membutuhkan biaya lain di luar biaya produksi. Dan itu jelas perbuatan sia-sia.

Orang awam yang tidak punya kepentingan apapun dengan rokok pasti bertanya-tanya, sekurangnya untuk dua hal itu: dilarang sekaligus dijual.

“Kenapa gak dilarang sekalian?” Jahlul tiba-tiba bertanya.

Saya pun segera menimpali. Saya memang berharap Jahlul akan sampai pada pertanyaan ini.

“Lalu, semua persoalan kelar, begitu maksudmu? Orang kena serangan jantung berkurang, impotensi menurun, keguguran lenyap atau kematian bisa diperlambat atau dihentikan? Ini masih bicara rokok dan akibat-akibat merokok”

Tanpa saya kasi kesempatan untuk menyela, saya terus melanjutkan.

“Ente tahu tidak, siapa yang pertama kali mengatakan bahwa rokok berbahaya? Siapa? Orang-perorangan, korporasi atau sekelompok korporat yang bekerja secara diam-diam untuk membunuh para petani tembakau kita, melalui oknum-oknum dalam lingkaran kekuasaan? Oke deh, sekarang saya coba lebih sederhanakan. Menurut ente, yang menanam tembakau pertama kali di negeri ini siapa? Ente cari dulu yang ini, ya. Setelah ente tahu, ente baru boleh mengobrolkan rokok lagi dengan saya”

“Kenapa jadi seribet itu urusannya, Men?”

“Sejak ditemukan revolusi industri, semua hal yang berhubungan dengan hajat orang banyak memang jadi ribet. Tapi gak ribet-ribet amat, kok. Mau di manapun, kehendak manusia sama saja. Kehendak yang macam-macam. Jangan-jangan, ente mulai membenarkan pendudukan Amerika di semenanjung Arab berhubungan dengan teroris dan keamanan global?”

Pertanyaan ini sengaja saya keluarkan untuk memancing saja. Ya, dia kan kerap terpancing dengan omongan berbau Barat. Baginya, Barat itu keliru semua.

“Ya, sudahlah. Orang kecil seperti kita gak perlu bicara muluk-muluk. Boleh-boleh saja kita ngomong si Anu begini dan si Anu begitu. Tapi, pembicaraan begitu cukup diselesaikan di warung. Selain omongan kita tidak ada yang mendengar, omongan muluk-muluk malah melupakan tugas utama kita”

“Memangnya, apa tugas kita, Men?”

“Eng ing eng”

Jahlul seperti menerawang sesuatu di atas sana. Jauh di kedalaman mata yang menerawang itu, sapuan dingin angin pagi pada hamparan pertanian tembakau di kampungnya sekonyong menempias langit-langit di atas sana itu. Itu tanda bahwa dia sedang tidak main-main dengan yang di atas.

jahlul jahlul Bicara Rokok

Related Post

Leave a reply