Islam di Perkotaan: Mempertimbangkan Pesantren Luhur

494 views

Pagi itu, pagi yang tampak rupawan dengan awan putih bershaf-shaf mirip sirip ikan di atas langit pesantren di mana saya tinggal, mbah Prof. KH Achmad Mudlor berselonjor kaki di undakan Aula pesantren.

Islam di Perkotaan: Mempertimbangkan Pesantren Luhur

Ketika saya hendak melintas di depan pintu keluar pesantren, Abah -begitu para santri memanggil- memanggil-manggil nama saya.

Saya pun bergegas menuju beliau. Setelah meraih tangan beliau untuk saya cucup, saya duduk di undakan agak paling bawah.

Tanpa basa-basi, beliau dawuh, “saya mau cerita tentang proses pendirian Pesantren Luhur.  Usah kamu catat. Kamu ingat-ingat saja. Kalau suatu saat saya mati, cerita ini sudah saya sampaikan ke anak-anak saya, dan itu berarti sejarah akan terus dikenang dan dilestarikan”. Sambil melintir-lintir Surya di tangan, yang agaknya tak betul-betul dinikmatinya. Beliau kemudian meneruskan, “arsip dan dokumen pendirian Pesantren Luhur ada di saya”.

Cerita tak berhenti sampai di situ. Abah Mudlor mengisahkan hal-hal lain, yang tentu masih relevan dengan sejarah awal pendirian namun tak terekam dalam dokumen formal; seperti bagaimana para kiai “bersiasat” agar kelak di kota-kota besar dapat didirikan pesantren, dengan “modal” dari Pemerintah.

Kenapa harus bermodalkan stempel Pemerintah?

Saya kurang ingat persis alasan di baliknya. Tetapi bahwa perguruan tinggi keagamaan harus ditopang oleh lembaga lain yang setara, itu kerap disitir oleh beliau. Lembaga lain dimaksud adalah lembaga pendidikan berbasis pesantren di mana santri-santrinya adalah mahasiswa, dan pengasuhnya sekurangnya harus tenaga pendidik di perguruan tinggi. Santrinya, kemudian, menjadi mahasantri, sedang kiainya adalah mahakiai.

Abah Mudlor sendiri memang dosen tetap di UIN Maliki hingga mencapai derajat lektor kepala, dan itu sebabnya beliau menyandang gelar akademik profesor. “Profesor Pangkat” (guru besar karena jenjang pengabdian), seloroh Abah Mudlor suatu kali. Saat kelak Abah pensiun, baliau mengabdikan diri di UNISLA (Universitas Islam Lamongan) sebagai rektor hingga akhir hayat.

Dari pembicaran pagi itu, Abah mengandaikan Luhur sebagai kawah candradimuka yang mencetak agamawan-spiritualis, bukannya sekedar agamawan-intelektual sebagaimana dikembangkan perguruan-perguruan tinggi Islam, negeri maupun swasta. Kok bisa? Agamawan-spiritualis hanya bisa dicetak lewat sistem belajar yang sangat disiplin, diiringi riyadhoh, tirakat, dan olah bathin yang continu. Sedang yang bertindak sebagai kiai haruslah seorang yang bukan saja ngelothok penguasaan ilmu-ilmu keagamaan dan penguasaan-penguasaan lain yang erat terkait dengan “kegaiban”, melainkan pula yang paham wacana dan keilmuan-keilmuan mutakhir.

Itu sebabnya pula, lulusan pesantren Luhur tidak “disarankan” menjadi pamong yang bergelimang kemewahan. Lulusan pesantren ini dididik untuk ‘menyebarkan sebanyak mungkin kebaikan’ dalam apapun bentuk dan caranya.

Desain kegiatan pesantren Luhur memang dilandaskan kepada misi ini kemudian; kajian wajib berupa sorogan kitab kuning berlangsung mulai sore bakda Asar sampai petang, diteruskan lagi selepas magrib sampai sekira menjelang tengah malam. Istighotsah diadakan persis bersamaan dengan wirid Magrib dan Subuh. Dan kajian-kajian (forum halaqoh) diadakan selepas istighatsah Subuh hingga menjelang matahari sepenggalah. Halaqoh mengangkat tema-tema kekinian dalam beragam wacana, mulai filsafat hingga sains dan teknologi.

Antara penguasaan keilmuan lahir dan kejadugan/kedigdayaan batin itu memang mendapat penekanan yang tinggi. “Keluar dari pesantren ini, kalau kamu gak pinter, ya, sekurangnya jadi dukun”. Nasihat ini, dengan nada guyon khas pesantren, sering Abah ulang-ulang dalam banyak kesempatan. Juga, “tiap ilmu punya cara berpikir; tiap pemikiran pasti punya perasan; dan perasan pemikiran terkristal dalam jargon. Maka lahirlah banyak jargon. Cogito Ergo Sum punya Descartes, mislanya”

Abah Mudlor adalah contoh manusia, di perkotaan khususnya, yang tekun, teguh, dan berpendirian keras; di mana pendirian semacam itu gampang lepas, lebih-lebih oleh moda duniawiyah yang terus menggelinding dari pagi hingga pagi lagi.

Urgensitas

Bagaimanakah nasibnya kini? Lima tahun saya menetap di Luhur, saya menjadi sangat yakin bahwa pandangan futuris para kiai di masa lalu agar di kota terdapat pesantren itu sangat jitu, setidaknya untuk beberapa hal berikut.

Pertama, sebelum wabah populisme Islam merajalela hingga “umat mabuk agama” dan para pemabuk itu membentuk barisan, masyarakat urban sudah punya tradisi keberagamaan tersendiri, yang nyaris persis dengan keberagamaan masyarakat udik. Yang membedakan, paling jauh, adalah dalam soal-soal muamalat dan bagian-bagian kerikil dalam furuiyyah. Nahdliyyin di kota masih tahlilan, dibaan, dan lainnya; begitu pun dengan umat Muhammadiyah.

Kedua, Kehadiran pesantren di kota menandakan kehadiran Islam khas nusantara, yang mengerti akar budaya, tradisi dan simpul-simpul antropologis yang memang lebih dulu tumbuh subur. Islam dengan platform dan watak merawat akar itu sejak dulu digagas pesantren sejak Walisanga. Menghilangkan pesantren sama dengan upaya penghancuran Islam itu sendiri.

Keperluan Ekspansi

Dengan demikian, tak bisa ditampik bahwa Pesantren Luhur memiliki peran yang tak dapat disepelekan dalam ikhtiar merawat Islam yang berkeadaban. Yakni, Islam (persisnya, perspektif keislaman) yang tidak saja selaras dengan nafas zaman, namun juga diharapkan dapat “mendahului”.

Dengan maraknya wabah Islam sumbu pedek di satu sisi dan gelombang pasang sikap agnotisistik dan ateistik di sini lain, “gerakan luhur” pesantren luhur perlu diekskalasi secara lebih merata di semua ceruk kota di Tanah Air.

abah abah mudlor islam islam di perkotaan Islam di Perkotaan Mempertimbangkan Pesantren Luhur legacy leluhur luhur pendirian pesantren luhur pesantren pesantren luhur

Related Post

Leave a reply