Inilah Pokok-pokok Tujuan Project based Learning

406 views

Salah satu problem terbesar dunia pendidikan kita dewasa ini adalah ketidaksinkronan antara teori-teori yang terdapat dalam mata pelajaran di sekolah dengan realitas kehidupan yang dijalani oleh siswa (peserta didik).

Inilah Pokok-pokok Tujuan Project based Learning

Foto @pexels.com

Untuk itu, sejak 2013, pemerintah mulai membenamkan apa yang disebut sebagai Project based Learning pada Kurikulum 2013 (K-13).

Dengan menerapkan model pembelajaran Project based Learning ini pula, di lain pihak, terdapat sekian pergeseran dan pemaknaan baru terhadap peran guru dan siswa. Guru, misalnya, tidak lagi dipandang sebagai agen pengetahuan yang serba tahu (knowing every thing), melainkan lebih bersifat sebagai penengah yang menjembatani siswa dengan tujuan pendidikan. Dengan demikian, Project based Learning memperlakukan siswa sebagai pusat diberlangsungkannya pendidikan (student centered).

Untuk itu, siswa didorong untuk bereksplorasi, mengolah, menilai, dan menginterpretasikan berbagai informasi agar menghasilkan model pembelajaran yang lekat dan dekat dengan realitas yang mereka hadapi sendiri. Secara sederhana, siswa didorong untuk melakukan kegiatan yang berbasis pada beragam aktivitas yang mereka hadapi, temukan, atau pikirkan. Sebagai misal, dunia pekerjaan di lapangan.

Terhadap dunia pekerjaan, Project based Learning menekankan pada urgensi pemahaman dan pengertian siswa pada segala jenis usaha dan skil-skil yang dibutuhkan melalui pemahaman praksis. Dan agar memeroleh pemahaman yang praksis, siswa harus menerjuni, mengamati, dan berinteraksi sendiri dengan fakta secara langsung.

Sebelum melangkah jauh terhadap tujuan Project based Learning, ada baiknya kita berangkat dulu dari pengertian, ciri, berikut kelebihan-kekurangan model pembelajaran model kurikulum 2013 ini.

 

Pengertian

Induk perundang-undangan yang menurunkan sistem pendidikan nasional adalah Undang-Undang nomor 3 tahun 2003. Dalam undang-undang ini disebutkan bahwa pembelajaran merupakan proses interaksi antara pendidik, peserta didik, dan bahan ajar (sumber pengetahuan) dalam suatu lingkungan pendidikan. Sedangkan S. Hanafy dalam artikel “Konsep Belajar dan Pemelajaran” (2014) menuturkan, pembelajaran dimaksudkan agar peserta didik memeroleh kemahiran, ilmu pengetahuan, karakter/watak yang baik.

Dengan begitu, pembelajaran atau pendidikan sejatinya adalah hubungan interaktif antara peserta didik, bahan ajar (yang dapat diperoleh dari beragam media, dan dengan demikian menjadikan buku hanya sebagai salah satu di antaranya saja), dan pendidik agar peserta didik memeroleh kemahiran/skil yang dibutuhkan untuk kehidupannya kelak. Pendidikan yang baik juga menghasilkan peserta didik yang memiliki berkarakter, seperti integritas, amanah, bertanggungjawab, dan seterusnya.

Project based Learning adalah istilah yang baru diperkenalkan pada Kurikulum 2013. Secara harafiah, Project based Learning berarti, “Pembelajaran berbasis Proyek”. Apa maksudnya?

Sebagaimana diamanatkan oleh UU Sisdiknas bahwa pendidikan harus membenamkan skil dan keterampilan yang mumpuni, maka Project based Learning merupakan terjemahan UU tersebut dalam tataran yang sangat praksis. Project based Learning mengindikasikan suatu model pembelajaran yang memberikan penekanan kepada sedikitnya kemampuan pemecahan masalah (problem solving) dan pemikiran kritis (critical thinking). Lalu, masalah apa yang mesti dipecahkan dan dipikirkan secara kritis?

Tak lain adalah “masalah”/proyek. Di dalam Project based Learning, peserta didik diandaikan sebagai manusia otonom yang harus mencari dan menyelesaikan sendiri “masalah” yang diberikan oleh pendidik. Sedangkan pendidik, di lain pihak, hanya bertindak sebagai fasilitator, dinamisator dan motivator. Dengan menjalankan model pendidikan yang seperti itu, sekurangnya siswa dapat menjalankan fungsinya sebagai problem solver (pemecah masalah) dan critical thinker (pemikir yang kritis).

Dengan begitu, muncul pula apa yang disebut sebagai Problem based Learning (belajar berbasis masalah/kasus) dan kemampuan critical thinking (berpikir kritis).

 

Problem based Learning

Problem based Learning merupakan suatu kegiatan belajar yang menempatkan peserta didik sebagai subyek dari sutau pemecahan masalah. Peserta didik diberikan tugas untuk mencari masalah dan sekaligus memecahkannya. Tentu, masalah tersebut diambilkan dari persoalan harian dari mana peserta didik hidup atau bersinggungan.

Banyak pakar pendidikan berpandangan bahwa tujuan problem based learning, tak lain, adalah agar kemandirian sikap dan keajekan mental peserta didik dalam menghadapi pelbagai persoalan hidup dapat bersemai; begitu juga dengan kemampuan psikis dan psikotomorik peserta didik. Seiring pertumbuhan psikis yang positif tersebut, kelak peserta didik akan menjadi manusia unggul, yang mampu menjadi manusia otonom. Pada giliran berikutnya, manusia otonom mampu menjadi problem solver (pemecah masalah) yang andal di tengah masyarakat.

Sebagian besar peneliti menilai, Problem based Learning sangat bermakna positif prestasi akademik dan sikap belajar peserta didik, seperti peningkatan kuriositas, sikap kooperatif, dan lainnya. Di samping itu, ia juga berpengaruh besar pada perubahan sikap, semisal perubahan dari ektrover ke introver dan kompetitif ke kooperatif.

 

Critical Thinking

Critical thinking dicirikan dengan, secara umum, gaya berpikir menurut kaidah-kaidah logika berpikir. Namun, untuk derajat peserta didik setingkat siswa, tentu saja tuntutannya bukan pada penalaran ala logika berpikir.

Critical thinking cukup diuji dan diketahui melalui sejauh mana siswa dapat menggunakan asumsi, penalaran, dan logikanya dalam menghadapi fakta. Berikut ciri-ciri umumnya;

1. Dapat merumuskan masalah

2. Mampu berargumen dengan baik

3. Mampu melakukan deduksi, dan

4. Dapat melakukan evaluasi yang berlandaskan pada fakta

 

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan

1. Dapat mendorong siswa untuk berpikir secara mandiri

2. Siswa dapat menyerap berbagai pelajaran berharga melalui sistem learning by act (belajar dengan mempraktikkannya)

3. Materi ajar lebih terfokus. Project based Learning memang hanya belajar materi ajar yang terkait, dan tidak belajar materi lain di luar itu.

4. Membiasakan siswa untuk bereksperimen atau bereksplorasi dengan berbagai sumber pengetahuan.

5. Karena siswa adalah pembelajar yang otonom, maka kemampuan dan perkembangan pengetahuan siswa hanya diketahui oleh siswa sendiri.

 

Kekurangan

1. Kesulitan pertama terletak pada guru. Yakni, guru dituntut untuk mengatasi heterogenitas peserta didik, mulai dari heterogenitas latar belakang, kemampuan bernalar/kecerdasan, dan seterusnya.

2. Kesulitan kedua ada pada bahan/materi ajar. Yakni bahwa tidak semua materi ajar cocok untuk diterapkan pada Project based Learning

 

Pokok-Pokok Tujuan

Setelah diuraikan pengertian, kelebihan, dan kekurangan Project based Learning, dalam bagian ini akan dijabarkan apa saja pokok-pokok tujuan dilaksanakannya Project based Learning.

1. Lifelong learning. Yakni, kesadaran pada komitmen “belajar sepanjang hayat”. Sudah semestinya pendidikan menerapkan konsep ini jika pendidikan memang dimaksudkan sebagai piranti terbaik membangun bangsa.

2. Critical thinking. Yakni, kemampuan mendayagunakan nalar dan logika dalam menghadapi fakta. Dengan modal berpikir kritis, peserta didik tak mudah jatuh ke lubang hoaks atau informasi palsu.

3. Creative thinking. Yakni, kemampuan untuk mencipta. Kreativitas merupakan barang langka di saat pendidikan hanya berorientasi pada hapalan dan pemahaman yang tekstual.

4. Collaborative and cooperative learning. Yakni, kemampuan untuk bekerja sama dan berkolaborasi demi tercapainya tujuan-tujuan bersama. Sejak memasuki milenium yang baru ini pola kolaboratif fan kooperatif mutlak menjadi keperluan mendasar.

5. Problem solving. Yakni, kemampuan memecahkan masalah. Kemampuan ini tentu melibatkan banyak dimensi internal yang rumit. Jika pendidikan berhasil, tentu yang dapat mendidik peserta didik menjadi problem solver.

6. Real world connection. Yakni, peserta didik berkemampuan menghubungkan isi tekstual buku dengan realitas riil yang mereka hadapi.

7. Reflective thinking. Yakni, kemampuan peserta didik untuk merefleksikan berbagai peristiwa faktual menjadi gumpalan-gumpalan nilai, atau sekurangnya mereka dapat menarasikan kembali peristiwa-peristiwa yang mereka hadapi.

creative thinking k13 kurikulum 2013 lifelong learning pokok-pokok tujuan project based learning problem based learning project based learning

Related Post

Leave a reply