Hidup adalah Datang dan Pergi

1150 views
Hidup adalah Datang dan Pergi

Sumber: becomingminimalist.com

Hidup adalah perkara datang dan pergi. Dan dalam proses menjalani kehidupan, sebagaimana sering dikemukakan Cak Nun dalam forum-forum Maiyah, adalah perkara ngegas dan ngerem.

 

Datang dan Pergi

Dalam perkara datang, ada yang sekali datang dan tak pernah pergi lagi. Yang memisahkan hanya kematian. Begitu pun dengan pergi. Ada yang sekali pergi, lalu tak pernah sekali pun datang lagi. Dia pergi hingga liat lahat jadi peraduannya. Jasadnya tak lagi menginjak bumi, karena ia sudah didekapnya.

Dalam soal ngegas dan ngerem terdapat keunikannya sendiri sebagaimana datang dan pergi. Namun begitu, kesemuanya bertaut. Datang-pergi-ngegas-ngerem saling terkait satu dengan yang lain.

Ada yang hidupnya selalu ngegas. Bukan karena dia tak dilengkapi rem, tetapi mungkin dia sudah lupa bahwa dia punya rem. Atau, dia memang tak pernah mengopsepkan rem dalam hidupnya, sehingga dia pergi dalam keadaan sedang ngegas. Demikian pun dengan dia yang hidupnya hanya mengenal rem. Dia bahkan pergi dalam keadaan sedang mengerem, atau kencang-kencangnya menginjak pedal rem.

Bagaimana sebaiknya menjalani kehidupan, saya menyelidiki kawan saya sendiri. Dulu, dia seorang pengegas yang handal, dan sekarang pun masih handal. Tapi, sekarang dia, dalam banyak soal sejauh saya memandang, lebih banyak mengerem. Hidupnya rancak. Berimbang.

Sebut saja inisialnya Achmad Dhofir Zuhry (eh!), penulis dua kumpulan esai “Peradaban Sarung” dan “Kondom Gergaji” yang mentereng itu. Entah sudah berapa kali naik cetak kedua buku ini. Yang jelas, sejak diluncurkan Gramedia beberapa bulan lalu, keduanya langsung jadi buah bibir, khususnya di kalangan santri milenial.

Jaka, saya memanggil dia Jaka. Kenapa saya memanggil dia Jaka, sebab utamanya adalah bahwa dia, bagi saya, selalu dalam kecemerlangan, spirit, dan gairah keperjakaan. Hidupnya selalu bertumbuh. Gairahnya selalu berkobar-kobar. Dan tak kalah penting, penampilannya selalu dalam pembawaan dan kepercayaan diri seorang perjaka (eh!)

Saya berkawan –tepatnya bersaudara- sejak dari pesantren. Dulu, semasa SMA.

Saya masih ingat betul waktu pertama kali bertemu di pesantren Nurul Jadid, Probolinggo. Saya diantar kiyai saya dari rumah, dia diantar orangtuanya dari Malang. Kami bertemu di ndalem kiyai untuk pertama kalinya. Dia mondok bersama kerabatnya yang juga dari Malang, pun bersaudara dengan saya. Inisialnya Ali Imamul Muslimin.

Gus Kutilang, begitu dulu kawan-kawan kamar memanggilnya, adalah anak seorang alim allamah yang hidup dalam kebersahajaan dan kesederhanaan. Eh, iya, yang hendak saya ketengahkan bukan Gus yang mulia, tapi kawannya itu: si Jaka.

Beberapa tahun tak bersua, di samping hanya melihatnya di medsos, rupa-rupanya Jaka memang menjalani kehidupan yang serba 180 berubah (kecuali soal selera humor, udud, dan tentu saja sarung). Yang saya kurungi ini sepertinya akan ia pertahankan sampai kiamat kurang beberapa hari, kalau ia masih bertahan di bumi, tentu saja. Tapi, saya cukup yakin dengan itu.

Bulan lalu saya menemuinya di padepokannya yang asri. Tepatya, berbulan-bulan yang lalu.

Seperti biasa, Jaka menyambut saya dengan basa basi purba, ‘apa gerangan kebiasaan-kebiasaan terbaru, dan kenapa akhirnya saya kembali lagi Malang’. Saya jawab seadanya. Jawaban saya tak mungkin semolek dia. Jaka memang terkenal lihai meramu kalimat, sehingga pesan yang mestinya biasa-biasa saja, di mulutnya jadi tidak biasa.

Kemampuan begitu memang bukan kemampuam sekali jadi. Sejak di pesantren dulu dia sudah menjuluki dirinya dengan ‘Penyihir Kelelawar’. Apalagi maksudnya kalau bukan jadi penyihir dalam urusan bual-membual. Tapi, dia membual dengan puisi. Maka, jadilah puisi panjang yang kelak dibukukan itu, “Orgasme”.

 

Menghidupi Kedatangan dan Kepergian

Balik lagi ke perkara tadi: apa yang saya selidiki dari kehidupan Jaka, lalu dia sekarang hidup bak bhante di padepokannya?

Ternyata, dia meramu hidupnya dengan sederhana saja. “tertawakan saja persoalan-persoalan hidup itu. Nanti persoalan-persoalan itu akan kabur dengan sendirinya”. Jadi, dia menertawakan hidupnya, lalu dari sana Jaka bangun dan mematenkan dirinya. Dia tak keukeuh dengan apapun persoalan yang datang, tapi juga bukan berarti dia seorang pengacir (red. Orang yang suka ngacir). Istilah Jaka, Golcuk alias golongan cuek.

Dia bukan manusia cuek. Kalaupun cuek, itu hanya penampakan lahir. Bagaimana mungkin dia cuek dengan kehidupan sementara buku-bukunya terus lahir.

Dia orang yang terus pergi dalam kembali, ngegas dalam ngerem. Maka, di akhir perjumpaan kami, Jaka berujar, “Kembalilah ke arah kau pergi”.

Nah, kan!

datang hidup pergi

Related Post

Leave a reply