Cara Mengatur Keuangan Usaha dan Rumah Tangga agar Keuangan tetap Sehat

346 views

Hybernasi.com –Tips Keuangan. Mengatur keuangan usaha dan rumah tangga adalah dua hal yang berbeda. Keuangan usaha selalu berhubungan dengan risiko laba dan rugi, sementara keuangan rumah tangga umumnya berhadapan dengan anggaran belanja dan pemasukan. Namun, dalam soal pengaturan keuangan secara umum, keduanya terhubung oleh pola ‘pengeluaran harus lebih kecil daripada pemasukan’. Berikut ini Hybernasi berbagi tips dan cara mengatur keuangan usaha dan rumah tangga agar keuangan usaha dan rumah Anda tetap berada pada trayek yang sehat.

Cara Mengatur Keuangan Usaha dan Rumah Tangga

Banyak usaha yang akhirnya kolaps dan terjungkal karena dipicu oleh kegagalan mengelola keuangannya secara baik. Begitu pun dengan sejumlah keluarga yang mengalami babak-belur keuangan lantaran sistem manajerial keuangannya tidak dikelola dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi. Untuk itu, mengelola keuangan merupakan salah satu kunci berkembangnya usaha, juga kunci kelanggengan rumah tangga. Sebaliknya, tanpa berbekal sistem manajerial keuangan yang mumpuni, dapat dipastikan bahwa usaha atau bisnis –lambat atau cepat- akan menemui ajal kebangkrutan.

Di dalam kehidupan rumah tangga, urusan manajerial keuangan juga tak kalah pelik. Banyak pasangan, termasuk yang sudah memiliki cucu-cicit, harus berakhir menyedihkan lantaran pola pengaturan keuangannya tidak didasarkan kepada sistem manajerial keuangan yang sehat. Untuk itu, Hybernasi sengaja memberikan kiat atau tips yang dapat Anda, usaha, atau keluarga praktikkan.

 

Cara Mengatur Keuangan Usaha dan Rumah Tangga

Agar penjelasan di bawah ini dapat diacu secara kronologis dan terstruktur, di tempat pertama harus dijelaskan terlebih dahulu cara pengaturan keuangan rumah tangga. Baru, setelahnya, diberikan penjelasan juga tentang tata kelola keuangan usaha. Karena, bagaimana pun, keuangan rumah tangga yang baik secara tidak langsung berkorelasi dengan kesehatan keuangan usaha, apalagi usaha tersebut merupakan usaha rumahan (UMKM).

 

7 Cara Mengatur Keuangan Rumah Tangga

Terdapat beragam faktor yang dapat memengaruhi kesehatan keuangan rumah tangga. Yakni, mulai dari faktor sumber pemasukan, pembelanjaan untuk kebutuhan pokok, hingga belanja kebutuhan yang bersifat tambahan atau komplementer.

Di samping itu terdapat pula faktor lain, seperti sistem pengendali keuangan. Maksudnya, karena keluarga sekurangnya diisi oleh dua kepala –suami dan istri- maka beragam faktor yang berhubungan dengan pengeluaran harus melewati kesepakatan atau kesepahaman di antara kedua belah pihak tersebut. Jika tidak, selain pengeluaran akan berisiko kehilangan kendali; tiadanya kesepahaman akan memicu keretakan hubungan suami-istri.

Berikut ini penjelasan cara mengatur keuangan rumah tangga agar ia imun terhadap berbagai gelombang pasang-surut sumber pemasukan keuangan.

 

1. Bedakan antara Keinginan dan Kebutuhan

Cara mengatur keuangan rumah tangga yang pertama ialah dengan memahami perbedaan antara keinginan dan kebutuhan. Dalam kehidupan rumah tangga, pastilah terdapat aneka kebutuhan yang mau tak mau harus dipenuhi. Sebagai misal, pemenuhan kebutuhan harian semisal untuk kebutuhan dapur, kamar mandi, bahkan hingga pendidikan bila kita telah memiliki momongan.

Namun kadang kala, keuangan rumah tangga tidak melulu cuma dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan rutin  yang bersifat wajib. Ia acap pula dibelanjakan untuk membeli barang yang tidak termasuk dalam daftar kebutuhan, yang sifatnya keinginan semata.

Sialnya, sebagian dari kita malah menganggarkan keuangan demikian besar untuk sesuatu yang sifatnya hanya keinginan tersebut. Padahal, seperti kita tahu, keinginan belum tentu kebutuhan kita. Sebagai misal, berbelanja fesyen, gawai/gadget keluaran terbaru, dan seterusnya.

Memang tidak ada larangan untuk menghambur-hamburkan keuangan untuk memenuhi keinginan. Namun, yang harus Anda sadari adalah bahwa pemasukan Anda tiap bulannya bisa saja tidak selalu sama. Terdapat banyak faktor yang dapat memengaruhi sumber pendapatan tersebut, katakanlah seperti pandemi yang tiba-tiba menghantam. Jadi, alangkah bijak bila Anda lebih mendahulukan kepentingan utama/primer di atas kepentingan komplementer/tersier.

Dengan demikian, cara mengatur keuangan rumah tangga di urutan pertama adalah dengan memahami perbedaan antara keinginan dan kebutuhan.

 

2. Kalkulasi setiap Pendapatan

Untuk mencapai tujuan keuangan rumah tangga yang tetap sehat, Anda perlu melakukan kalkulasi setiap pendapatan yang masuk ke kas keluarga. Kalau perhitungan pemasukan tersebut diadakan tiap bulan, maka kalkulasi pendapatan harus dilakukan tiap bulan.

Kalkukasi Pendapatan di sini tentu bukan hanya yang berasal dari penghasilan bulanan semata, namun juga insentif, upah lembur, dan pemasukan lain yang Anda dapatkan secara variatif.

Penting melakukan kalkulasi pendapatan sampai dengan tingkat detail yang tinggi, mengingat bahwa kas pendapatan itu akan Anda belanjakan untuk bermacam-macam kebutuhan primer dalam anggaran belanja sebulan mendatang.

 

3. Membuat Daftar Belanja Bulanan

Seterusnya, Anda harus membuat daftar belanja bulanan. Daftar belanja bulanan ini akan sangat menolong jika Anda menghendaki pengeluaran bulanan tetap stabil sesuai dengan rencana. Dengan membuat daftar tersebut, Anda pun dapat membuat daftar belanja prioritas. Kenapa harus membuat daftar belanja prioritas?

Alasannya, tak lain, adalah bahwa daftar kebutuhan primer pun sebetulnya masih bertingkat. Yakni, ada kebutuhan primer yang sekurangnya bersifat harian atau mingguan. Untuk kebutuhan primer harian, misalnya kebutuhan bahan pokok makanan, biaya transportasi, pendidikan, atau yang sejenis.

Daftar belanja bulanan ini sebetulnya berfungsi sebagai alarm (pengingat) skala prioritas. Namun prinsipnya, prioritas utama tetap berada pada kebutuhan primer, kemudian sekunder, lalu tersier/komplementer.

 

4. Anggarkan Dana Darurat

Dana darurat diperlukan agar kita memiliki kesigapan kepada pembiayaan pengeluaran yang bersifat insidental. Keadaan bisa saja berubah sewaktu-waktu, atau sebuah peristiwa mengharuskan kita untuk mengeluarkan biaya lain di luar daftar rencana.

Sebagai misal, tanpa dinyana kita terkena musibah. Musibah adalah peristiwa insidental yang berada di luar rencana dan ancang-ancang anggaran. Contoh lain adalah PHK, krisis ekonomi, atau pandemi yang tiba-tiba menyerang.

Secara umum, dana darurat dianggarkan sekitar 10-30 persen dari total pemasukan atau catatan keuangan dalam kas keluarga. Namun, tentu itu bukan angka paten. Yang pasti, Anda tetap harus menganggarkan dana darurat sebaik-baiknya.

 

5. Perhatikan Rasio Utang

Utang kerap kali menjadi beban dan masalah yang amat rumit diselesaikan. Jika Anda terpaksa berutang, berutanglah untuk kegiatan produktif. Sebaliknya, jika Anda berutang untuk menambal kebutuhan yang sifatnya konsumtif belaka, maka risikonya adalah Anda akan kesulitan untuk mengembalikannya.

Untuk mengatur keuangan rumah tangga, yang paling baik sebenarnya adalah dengan menghindari utang. Sebab, tagihan dan kewajiban membayar utang bisa menjadi beban yang membuat keuangan rumah tangga terganggu.

Di lain pihak, utang akan memberikan beban berlipat pada kas keuangan keluarga. Sebab, Anda pun dipaksa membuat daftar pembayaran lain di luar daftar belanja kebutuhan. Untuk itu, jika pun Anda terpaksa berutang, usahakan jangan sampai melebihi batas 30 persen dari total penerimaan bulanan keluarga Anda.

 

6. Anggarkan untuk Asuransi, Tabungan, dan Investasi

Penghasilan yang Anda kumpulkan dan menjadi kas keluarga tentu tak ingin hanya berhenti sebagai kas untuk dihabiskan dalam belanja kebutuhan saja. Anda pun pasti menghendaki keuangan tersebut tetap dapat berputar secara produktif, sehingga Anda pun mendapatkan return atau kembalian yang lebih.

Untuk itu, Anda perlu menganggarkan untuk kebutuhan asuransi, tabungan, dan investasi.

 

7. Lakukan Audit secara Berkala

Yang terakhir, cara mengatur keuangan rumah tangga agar keuangan tetap sehat adalah dengan melakukan audit secara berkala, misalnya audit bulanan.

Daftar kebutuhan kadangkala tidak menentu, bahkan untuk kebutuhan primer sekalipun. Sebagai misal, anak tiba-tiba meminta ganti seragam sekolah. Karena seragam sekolah adalah kebutuhan primer, mau tidak mau Anda pun harus memenuhinya sekalipun tidak ada dalam bagan rencana keuangan bulanan.

Dengan melakukan audit secara berkala, Anda dapat mereka-reka daftar rencana keuangan untuk bulan-bulan mendatang, termasuk untuk mengakomodasi kebutuhan primer yang bersifat insidental sebagaimana contoh tadi.

Itulah cara mengatur keuangan rumah tangga agar keuangan Anda tetap sehat dan stabil. Berikut ini adalah cara lanjutan dalam pengaturan keuangan usaha atau bisnis Anda.

 

13 Cara Mengatur Keuangan Usaha

Sebagaimana disebutkan di muka bahwa keuangan dalam bisnis sekurangnya berkorelasi dengan risiko, biaya produksi, gaji karyawan, dan seterusnya.

Itu sebabnya, mengatur keuangan usaha jauh rumit dan musykil dibandingkan sistem manajerial keuangan rumah tangga. Dalam keuangan usaha, Anda misalnya perlu melakukan financial planning yang ketat, yang mempertimbangkan asas return atau kembalian di atas segalanya. Dan barangkali uraian 13 cara mengatur keuangan usaha berikut ini sedikitnya diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam usaha membuat financial planning yang tepat tersebut.

 

1. Lacak Pembiayaan melalui Pembukuan

Semakin besar aktivitas ekonomi sebuah usaha/bisnis, semakin besar pula ongkos pembiayaan yang harus dikeluarkan. Untuk itu, Anda perlu membuat dan melacak daftar pembiayaan yang harus ditanggung dalam tiap periodenya. Maka, Anda pun mau tidak mau harus membuat sistem pembukuan yang memuat daftar pembiayaan yang detail.

Tentu saja pembukuan tidak hanya berfungsi sebagai alat rekam pembiayaan; ia juga dapat mendata semua jenis pembiayaan, misalnya mulai dari ongkos karyawan, pembelian bahan baku, hingga urusan yang secara langsung tidak berhubungan dengan aktivitas usaha. Dan secara umum, pembukuan berfungsi untuk mencatat;

  • Laporan Penghasilan
  • Laporan Modal
  • Laporan Arus Kas, dan
  • Laporan Neraca.

Demi mencapai sistem pembukuan yang rapi, beberapa perusahaan besar menggunakan jasa akuntan publik (public accountant), jika perusahaan memang kekurangan tenaga ahli yang secara khusus menangani pembukuan tersebut.

 

2. Membuat Rencana Keuangan

Membuat rencana keuangan ini tidak saja dibutuhkan oleh usaha yang baru dirintis, namun juga oleh perusahaan-perusahaan sudah besar dan kokoh (establish).

Perencanaan keuangan (financial planning) menjadi salah satu bahan acuan atau rujukan dalam arus belanja. Itu sebabnya, dengan memiliki sistem perencanaan keuangan, usaha akan memiliki sistem kendali keuangan yang paten dan ajeg.

Secara umum, acuan dalam pembuatan rencana keuangan ini didasarkan kepada kebutuhan belanja harian, minggu, atau bulanan.

 

3. Segerakan Mengurus Faktur

Untuk jenis usaha kecil dan menengah (UMKM), sedikitnya faktur dibedakan oleh dua jenis saja, yaitu;

  • Faktur Pembelian
  • Faktur Penjualan

Secara sepintas, urusan faktur bukan urusan mendesak. Faktur tidak berhubungan secara langsung dengan arus keluar-masuk keuangan. Namun, sekali saja Anda lalai mengurus faktur, misalnya faktur pembelian, Anda akan kehilangan sejumlah aset yang bisa jadi itu merupakan aset utama perusahaan.

Kini, dengan kemajuan informasi teknologi dalam accounting software, pengurusan faktur pun dapat dilakukan secara digital dan dengan risiko yang minimal.

 

4. Pisahlah antara Akun Usaha dan Pribadi

Memisah antara akun usaha dan pribadi mungkin terdengar kenes. Namun, itulah yang harus dilakukan jika masing-masing akun diproyeksikan untuk kebutuhan yang berbeda.

Pemisahan akun ini berfungsi, salah satunya, adalah untuk menertibkan sistem keuangan, sehingga kedua akun berjalan di atas landasan masing-masing. Anda pun menjadi lebih mudah untuk mengecek, mengendalikan, atau memantau arus keuangan usaha Anda.

 

5. Segera Lunasi Tagihan

Sebetulnya, tagihan bisa dimasukkan ke dalam daftar pembayaran wajib yang sudah Anda buat dalam bagan keuangan. Namun, pembayaran tagihan kerap kali terkendala oleh sistem keuangan perusahaan sendiri, sehingga ia bisa molor atau bahkan telat.

Untuk itu, segeralah lunasi tagihan pembayaran Anda.

 

6. Berhemat itu Penting!

Kenapa berhemat penting? Ya, terutama karena keuangan usaha itu saling terkait antara satu dengan yang lain. Tidak boleh ada pemborosan, apalagi pemborosan ke arah yang tidak produktif.

Dengan berhemat, Anda akan menyelamatkan keuangan usaha tetap normal dan stabil.

 

7. Pangkas Akomodasi Perjalanan yang kurang Mendesak

Melakukan perjalanan ke luar daerah itu penting selama perjalanan tersebut terkait dengan pengembangan atau ekspansi usaha dan bisnis Anda. Namun, tetap usahakan bahwa perjalanan tersebut tidak sampai menelan biaya berlebih.

Hal itu dilakukan demi menjaga agar kesehatan keuangan tetap normal. Yang perlu Anda lakukan adalah mengatur biaya dan akomodasi perjalanan agar Anda tetap bisa berhemat.

Atau, jika tidak sangat mendesak, Anda dapat memanfaatkan aplikasi semacam Skype, Google Meet, dan Zoom, sehingga Anda pun dapat memangkas akomodasi perjalanan yang tidak terlalu urgen.

 

8. Jangan Sembarangan Ekspansi Pasar

Ekspansi usaha itu penting, bahkan teramat penting. Karena, hanya dengan ekspansi pasar usaha Anda akan memiliki kemungkinan berkembang dan lalu membesar.

Namun, tentu saja keputusan melakukan ekspansi pasar tersebut harus dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan kebijaksanaan. Banyak usaha dan bisnis yang justru melorot tajam setelah melakukan ekspansi pasar, misalnya dengan membuka cabang baru.

Ekspansi pasar dengan membuka cabang sama dengan membuka usaha baru di tempat yang baru. Artinya, Anda harus memperlakukan cabang tersebut layaknya kantor pusat atau perusahaan utama Anda.

 

9. Membuka Diri pada Investasi

Kenapa harus membuka diri pada investasi? Tak lain karena investasi akan makin menghidupkan kinerja keuangan.

Dengan investasi, Anda memiliki simpanan keuangan yang cukup untuk melakukan segala yang diperlukan untuk pengembangan usaha.

 

10. Harus ada Dana Darurat

Dana darurat merupakan dana yang sengaja disisihkan atau dipersiapkan guna menghadapi kemungkinan-kemungkinan terburuk, yang datangnya kerap di luar dugaan. Dana darurat tersebut diperlukan, terutama, agar usaha dan bisnis Anda tetap dapat bekerja dengan baik walau keadaan lain sedang tidak memihak.

Dana darurat biasanya dianggarkan dalam sistem anggaran keuangan tersendiri, dan tidak akan digunakan selagi keadaan normal.

 

11. Belajarlah Ilmu Akuntansi

Mungkin Anda berpikir bahwa selama Anda memiliki seorang akuntan, keuangan Anda akan baik-baik saja. Nah, ini sebetulnya kecerobohan.

Anda juga perlu belajar ilmu akuntansi, sekurangnya ilmu akuntasi yang berhubungan langsung dengan sistem keuangan usaha Anda. Dengan memiliki bekal ilmu akuntasi, Anda sama dengan membekali diri dengan sistem audit internal yang menyatu dengan diri Anda.

Bukankah membaca laporan keuangan perusahaan harus dilakukan dengan prinsip-prinsip akuntasi? Nah, itulah fungsinya yang lain.

 

12. Terus Pantau dan Ukur Performa Usaha

Sebagai owner (pemilik) usaha, Andalah yang harus menjadi orang pertama yang memiliki kemampuan mengukur performa usaha dan bisnis Anda. Jangan sampai, pengukuran performa usaha Anda gantungkan kepada pihak lain.

Sebab, selain usaha memerlukan perhitungan cemerlang, pengembangan usaha juga butuh insting. Sebagai owner, Andalah yang paling mengerti perjalanan usaha Anda dari titik nol. Dan ketika Anda baru memulai, bukankah Anda lebih memercayai insting daripada perhitungan?

 

13. Laba adalah Sumber Pengembangan Usaha

Terakhir, jika Anda tidak mau terus-menerus bergantung kepada sumber pendanaan dari pihak ketiga, laba adalah sumber pengembangan usaha yang harus Anda maksimalkan.

Demikian penjelasan cara mengatur keuangan usaha dan rumah tangga ini disampaikan. Semoga penjelasan yang serba terbatas ini dapat membantu Anda untuk mengelola keuangan usaha dan rumah tangga sehingga keuangan keduanya berada di jalur yang sehat.

 

Baca juga: 10 Tips Mencapai Financial Freedom di Usia Muda

 

Akhirul Kata

Perkembangan teknologi informasi sudah demikian canggih. Pola mengatur keuangan pun sudah tidak lagi dilakukan secara manual, kecuali dalam beberapa hal yang tetap butuh tenaga para ahli.

Untuk itu, karena Anda adalah manajer utama dari keluarga dan usaha Anda sendiri, sebaiknya Anda terus memperbarui pengetahuan terkait dengan bidang yang Anda geluti.

Selamat Mencoba!

cara mengatur keuangan dana darurat kebutuhan kebutuhan primer keuangan keuangan rumah keuangan rumah tangga keuangan usaha mengatur keuangan mengatur keuangan rumah mengatur keuangan usaha rumah rumah tangga usaha

Related Post

Leave a reply