Apa yang Dimaksud dengan Karya Sastra? Berikut Penjelasannya

277 views

Hybernasi.com –Teori Sastra. Sastra sudah dikenal masyarakat jauh sebelum masyarakat mengenal sistem lambang dalam huruf dan angka. Sastra, barangkali, sama tuanya dengan usia manusia sendiri; sebab, sastra merupakan konsekuensi logis dari bahasa tuturan yang dipakai manusia sebagai media penyampai pesan dan makna sejak mula. Sastra adalah kebutuhan manusia kepada daya ungkap yang lebih plastis dan segar agar komunikasi antar-individu menjadi lebih cair dan kaya. Kali ini Hybernasi akan berbagi pengetahuan seputar; apa yang dimaksud dengan karya sastra, teori dasar kesusastraan, dan sastra menurut para ahli.

Apa yang Dimaksud dengan Karya Sastra

Bisakah kita hidup tanpa sastra? Dapatkah kehidupan dijalani hanya berdasarkan aturan-aturan atau hukum yang ditetapkan secara adat, agama, sosial dan lain sebagainya? Pertanyaan-pertanyaan ini kerap menggelayut, khususnya sejak komunikasi manusia tidak lagi mengandalkan komunikasi manual dari mulut ke mulut dan gestur/sasmita semata.

Pada geliat kehidupan era digital dan tren baru yang terus berkembang, sastra agaknya mulai menjauh dari kehidupan masyarakat. Sastra lisan yang mengakar kuat dalam tradisi kelisanan orang-orang tua kita, misalnya, mulai tergerus dan digantikan oleh tren kepenuturan teks/tulisan. Nyaris tak ditemukan lagi anak-anak yang tak bersedia tidur sebelum mendengarkan cerita-cerita atau dongeng lewat penuturan lagsung dari orangtua atau kakek-nenek mereka. Anak-anak kini tertidur pulas dengan gawai di tangan, dengan game yang masih menyala.

Dan terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas, misalnya, bisakah kita hidup tanpa sastra? Namun, sebelum menjawab pertanyaan tersebut Hybernasi akan menyodorkan dulu jawaban atas pertanyaan, “apa yang dimaksud dengan karya sastra”.

 

Tentang Sastra: Sastra Menurut Para Ahli

Selain bahwa sastra telah melahirkan banyak sastrawan dengan karya-karya sastra yang monumental, di antara keduanya ada yang tak kalah penting: pakar atau ahli sastra. Di dalam bahasa Indonesia, pakar sastra sekurangnya diwakili oleh kritikus (critic) dan teoritikus sastra.

Sastrawan menulis karya sastra, ahli sastra melahirkan teori dan konsep kesusastraan, dan para kritikus menilai kadar atau bobot kesastraan sebuah karya sastra, dari berbagai sudut pandang. Karya yang baik, selain mendapatkan sambutan meriah dari para pembaca, tentu harus lolos dari meja para kritikus sastra. Yakni, jika suatu karya sastra dianggap baik oleh seorang kritikus yang otoritatif, maka sebuah karya layak menyandang karya sastra kanon (canon literature). Sebaliknya, jika karya sastra hanya lolos di mata para pembaca namun gagal lolos di mata kritikus, karya tersebut umumnya disebut sebagai karya populer (popular literature)

Kritikus dan dokumentator sastra Indonesia terbaik, HB Jassin, adalah salah satu kritikus sastra terbaik yang pernah kita miliki. HB Jassin bahkan mendapatkan julukan sebagai paus sastra Indonesia. Setelah HJ Jassin, ada pula nama-nama besar semisal Subagio Sastrowardoyo, Goenawan Mohamad, Saini KM, Ignas Kleden, dan lain-lain.

Penjelasan mengenai apa yang dimaksud dengan karya sastra berikut ini tidak saja diambilkan dari nama-nama besar di Tanah Air, melainkan pula dari berbagai teoritikus sastra yang tenar dan populer di Indonesia.

 

Definisi Sastra

Kata sastra mula-mula diturunkan dari bahasa Latin litteratura. Kata litteratura berakar dari littera yang berarti “tulisan”. Litteratura dianggap sebagai ungkapan lain dari istilah Yunani grammatika. Dan antara litteratura dan grammatika, masing-masing memiliki arti tulisan (letter).

Di dalam litetatur kesusastraan Prancis, dikenal istilah belles-lettres: suatu istilah yang secara khusus dikenakan kepada jenis karya susastra atau tulisan yang mengandung unsur estetis yang tinggi.

Sastra pun dikenal dengan banyak istilah yang beragam, misalnya literature (Inggris), literatur (Jerman), litterature (Prancis), literatuur (Belanda), dan lain sebagainya. Namun, semua istilah yang mucul dalam berbagai rumpun bahasa tersebut memiliki kemiripan satu sama lain, yakni bahwa setiap tulisan atau karya sastra selalu indikatif dengan keindahan (estetika). Dengan kata lain, suatu tulisan akan disebut karya sastra manakala dalam tulisan tersebut sekurangnya ditemukan unsur estetika.

Di dalam bahasa Indonesia sendiri, kata sastra merupakan kata yang dikenal belakangan di mana di masa-masa dahulu ia biasa ditulis dengan susastra. Banyak ahli mengatakan bahwa ‘susastra’ adalah kata serapan dari bahasa Sanskerta: su (baik, bagus, indah, dan elok) dan sastra (tulisan). Jadi, sastra dalam bahasa Indonesia adalah tulisan yang mengandung unsur keelokan atau keindahan. Berikut ini penjelasan sastra menurut para ahli.

 

Sastra Menurut Para Ahli

 

1. Sastra menurut A Teeuw

Andries Hans Teeuw –lebih karib dengan nama pena A. Teeuw- merupakan ahli sastra Indonesia kenamaan. Nama penulis produktif berkewarganegaraan Belanda ini dianggap sebagai salah teoritikus peletak dasar-dasar teoritik kesusastraan Indonesia. Sejak awal 1950an hingga menjelang akhir 1990an, A Teeuw sudah melahirkan banyak risalah kesusastraan yang secara khusus membicarakan sastra Indonesia.

Dalam buku “Sastra dan Ilmu Sastra” yang terbit pada 1984, A Teeuw berargumentasi bahwa sastra dalam bahasa Indonesia berakar pada kata sas dan tra. Kata ‘sas’ merujuk pada makna memberikan, mengarahkan dan mengajarkan petunjuk; sedangkan kata ‘tra’ merujuk kepada makna sarana atau alat. Dengan begitu, sastra adalah suatu sarana yang dipakai pengarang/sastrawan untuk memberikan dan mengajarkan petunjuk.

Sarana tersebut dapat diartikan pula sebagai buku, risalah, atau pustaka. Namun begitu, sarana dalam pengertian A Teeuw tidak harus merujuk kepada semua jenis medium kesusastraan yang kita kenal belakangan, karena di masa lalu karya sastra tercecer dalam beragam media.

 

2. Sastra menurut Saini KM

Saini KM adalah sastrawan produktif yang menuliskan gagasan kesusastraannya dalam beragam aliran dan media. Saini KM menulis novel, puisi, drama, dan esai. Pria kelahiran 1938 ini termasuk tokoh penting pada gelombang sastrawan angkatan 1965.

Dalam buku “Antologi Apresiasi Sastra” yang terbit pada 1986, Saini KM mengemukakan bahwa sastra sesungguhnya adalah abstraksi personal seorang pengarang atas gagasan, spirit, pengalaman, dan keyakinan yang dituangkan ke dalam tulisan. Pengalaman empiris yang terpadu dengan spirit, pengalaman, dan keyakinan akan menghasilkan karya yang orisinal dan khas pengarang.

Ciri utama karya sastra, dengan demikian, terdapat pada kekhasan pengalaman dan cara pengarang membahasakan atau menuliskan gagasannya ke dalam teks atau tulisan. Maka, tiap pengarang akan memiliki keunikan yang membedakan satu dengan lain pengarang atau sastrawan.

Pada 1997, buku Saini KM di atas disempurnakan oleh Jakob Sumardjo, dengan menghasilkan penjabaran sastra secara lebih kategoris. Berikut penjelasannya:

 

Sastra

  • Imajinatif
  • Puisi
  • Prosa
  • Non-Imajinatif
  • Esai
  • Kritik
  • Biografi
  • Otobiografi
  • Sejarah
  • Memoar, dan
  • Catatan Harian

 

3. Sastra menurut Wellek and Warren

Wellek and Warren adalah nama yang sangat populer di kalangan pemerhati dan sarjana kesusastraan di Tanah Air. Bukunya, “Theory of Literature”, menjadi buku wajib dalam kurikulum perguruan tinggi/universitas.

Dalam buku tersebut, Wellek and Warren lebih menilik karya sastra dari bobot socio-antrologisnya. Yakni, karya sastra yang selalu bermuatan perasaan, emosi, dan pikiran pengarang tak bisa dilepaskan dari pandangan dunia masyarakat (world view) yang berlaku secara umum di mana penulis/pengarang tinggal. Oleh sebab itu, melalui karya-karya sastranya, pengarang berusaha mengintervensi, membujuk, atau memengaruhi para pembacanya.

Dengan demikian, dua hal penting yang dapat digarisbawahi terkait konstruksi teoritis kesusastraan dalam pandangan Wellek and Warren;

  • Karya sastra sebetulnya adalah kecenderungan suara zaman
  • Pengarang berusaha mengintervensi pembacanya

 

4. Sastra menurut Eagleton

Terry Eagleton adalah nama besar lain yang memenuhi hidangan wajib dalam mata kuliah teori-teori kesusastraan. Buku-bukunya banyak dijumpai di perpustakaan atau dalam daftar pustaka skripsi, tesis, dan disertasi jurusan ini.

Eagleton adalah nama besar dalam jagad sosiologi sastra. Dalam teori-teori kesusastraannya, Eagleton dianggap sebagai peramu teori Marx yang andal ke dalam sastra. Dalam buku “Marxis and Literary Criticism”, misalnya, Eagleton berpandangan bahwa sastra tidak semata-mata merupakan cerminan sosiologis masyarakatnya; lebih dari itu, karya sastra merupakan pantulan ideologi dari sistem sosiologis masyarakat di mana pengarang hidup dan berkembang.

Pandangan ini tidak mengherankan, karena Marx sendiri mendapatkan pengaruh yang cukup kuat dari sosiolog kenamaan abad ke-20, Louis Althusser (1918-1990). Menurut Althusser, ideologi adalah seperangkat sistem representasi di dalam masyarakat. Sistem representasi itu dapat berupa sistem politik, hukum, estetika, etika, bahkan agama.

 

5. Sastra menurut Plato

Filsuf terbesar kedua dalam sejarah Yunani ini menjadi populer dalam kajian kesusastraan lantaran dialah orang pertama yang menggagas teori mimesis. Jika Wellek and Warren berpandangan bahwa isi kepala pengarang kerap dibebani oleh pandangan dunia masyarakat, Plato malah berpandangan lebih tajam: karya sastra itu murni representasi realitas.

Teori mimesis Plato kemudian diteruskan –atau persisnya dikembangkan- oleh muridnya sendiri, Aristotoles. Bagi Aristoteles, pancaran realitas pada karya sastra sebetulnya tidak murni sebagai rebagai realitas itu sendiri; ia mendapatkan intervensi pengarangnya –lewat kelihaian bercerita dan meramu ide, misalnya. Kelak, ide mimesis ini disempurnakan lagi oleh kritikus naturalis Prancis pada abad ke-19 awal, Hypolite Taine. Nama terakhir ini dianggap sebagai salah seorang peletak dasa-dasar sosiologi sastra modern.

 

Akhirul Kata

Sebagai pamungkas, Hybernasi kutipkan ucapan presiden Amerika Serikat John F Kennedy yang masyhur itu: “jika politik itu kotor, puisi yang akan membersihkannya; jika politik itu bengkok, sastra yang akan meluruskannya”. Sastra selalu punya peran, sejak dahulu, dalam kehidupan, dalam sesempit dan seterhimpit keadaan apapun.

Demikian penjelasan mengenai “apa yang dimaksud dengan karya sastra” ini Hybernasi hadirkan. Semoga bermanfaat!

a teeuw apa yang dimaksud dengan karya sastra eagleton karya karya sastra plato saini km sastra wellek and warren

Related Post

Leave a reply