Amin dan Kejanggalan Berbahasa

1536 views

“Pukul berapakah liqa’ dimulai?”
“In syaa Allah pukul 13.00”
“Semoga masalah yang dibahas lancar-sukses”
“Aamin”

Amin dan Kejanggalan Berbahasa

Foto @unsplash.com

Percakapan seperti ini, atau yang serupa, belakangan kerap kita jumpai di grup-grup WhatsApp atau di kolom-kolom komentar grup Facebook, Ig, dan lain-lain. Apakah yang aneh dari percakapan ini?

Kalau saja percakapan tersebut adalah tuturan wicara, kita tak mendapati kejanggalan. Masyarakat pengujar cenderung tak terlampau abai pada jenis huruf atau kata yang digunakan lawan bicara senyampang maksud atau pesan pembicaraan dapat ditangkap. Yang menjadi masalah ketika kata-kata tertentu, khususnya kata-kata serapan, ditulis dengan maksud untuk melafalkannya seserupa atau semirip mungkin dengan akarnya.

Jika terus dipaksakan, dan misalnya kelak terekam dalam lema KBBI, tentu ini menjadi beban tersendiri bagi masyarakat pengujar. Selain bahwa secara lidah tidak memungkinkan, ia juga memerlukan perangkat-perangkat keilmuan yang secara khusus membedah kaidah pelafalan, cara baca dan lain-lain.

Dalam kasus di atas; liqa’, in syaa Allah dan Aamin dan mas’alah adalah kata-kata serapan dari bahasa Arab. Dan bahasa Arab, seperti kita tahu, adalah bahasa dengan kerumitan yang tinggi, lebih-lebih karena dia juga merupakan bahasa Al-Quran. Dapat ditengarai bahwa kehatian-hatian pengujar pada kata-kata serapan Arab itu merupakan kehati-hatian pada Al-Quran sendiri.

Namun demikian, mungkinkah kata serapan dapat dituliskan, lalu dilafalkan, hingga mendekati presisi? Dua masalah berikut bisa dipertimbangkan.

Sistem Tanda

Bahasa adalah sistem tanda itu sendiri (De Saussure). Sebagai sistem tanda, tiap bahasa memiliki keunikan penandaan, dan itu sebetulnya murni konsensus para pemakai, sesuai dengan sifat arbitrer bahasa sendiri.

Bahasa Arab termasuk bahasa dengan sistem penandaan yang kompleks, yang mengenal, misalnya, sistem bunyi dan panjang-pendek dalam berbagai penerapan dan variasinya. Ambil contoh kata ‘amin’.

Jika dituliskan dalam versi Arabnya, ‘amin’ terbentuk dari akar-akar morfem; hamzah, alif, ya’ dan nun. Menurut ilmu Tajwid (ilmu tentang cara baca huruf Arab/Hijaiyyah), alif yang “bertemu” dengan hamzah dalam satu kata, panjang hamzah menjadi enam harakat atau enam ketukan. Juga, ya’ sukun yang “bertemu” dengan nun di akhir kalimat harus dibaca enam ketukan. Yang membedakan keduanya; kalau pada yang pertama bersifat wajib (Mad Wajib Muttashil), sedangkan pada yang kedua hanya bersifat anjuran (boleh memanjangkan sampai enam ketukan; juga boleh tidak).

Kalau mengacu pada kaidah Tajwid tersebut, amin mestilah ditulis Aaaaaamiiiiiin. Juga; liqaaaaa’, in syaaaaaa Allaah. Apa sudah selesai? Belum. Nun sukun yang berdapan dengan syin dalam insyaallah harus didengungkan. Dalam kaidah Tajwid, dia disebut Ikhfa’. Dan pada lafal Jalalah (Allah), ketebalan lam ganda /ll/ mesti diukur dengan seksama, mengikuti kaidah makharij al-huruf. Rumit kan?

Kompleksitas dan Universalitas Bahasa

Sejak bahasa diciptakan oleh masyarakat penutur, ia sudah mengalami banyak pergeseran, benturan atau persentuhan dengan lain bahasa, dengan yang serumpun atau lain sama sekali. Namun, sebagai alat komunikasi, bahasa terus menguntit berbagai perkembangan atau kemajuan dalam teknologi, sains, kemanusiaan dan lainnya.

Bahasa tunduk kepada berbagai dinamika tersebut, tentu demi keperluan penyebutan atau penamaan. Bahasa tidak mengkin mendahului, kecuali terjadi pada rumpun susastra, sebagaimana dahulu sempat dicetuskan oleh Sutardji Calzoum Bahri lewat Kredonya yang masyhur itu.

Di lain pihak, dalam usaha menemukan bentuk nomenklatur untuk objek-objek baru, kadangkala bahasa satu dengan lainnya harus saling-pinjam. Ini pun berlaku bagi bahasa Indonesia; sebagai misal kata-kata serapan dalam pembicaraan kali ini.

Amin dan insyaallah sudah terserap ke dalam bahasa kita, entah mewakili seluruh pengertian keduanya atau tidak, dan itu sebabnya ia sudah menjadi perbendaharaan bahasa kita. Pengucapan, berikut pelafalannya, tentu mengikuti kaidah yang berlaku dalam bahasa kita. Sayangnya, KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) belum menyertakan cara baca dan lainnya sebagaimana kamus-kamus standar bahasa Inggris.

amin dan kejanggalan berbahasa kata serapan arab kbbi kejanggalan berbahasa sistem tanda universalitas bahasa

Related Post

Leave a reply