7 Sastrawan Wanita Indonesia Terbaik Abad ini

695 views

Hybernasi.com –Sastrawan Indonesia. Beragam genre dan aliran kepenulisan kesusastraan Indonesia tidak saja dibintangi oleh penulis-penulis laki-laki. Beberapa nama besar sastrawan wanita Indonesia berikut ini tak bisa diabaikan begitu saja. Mereka memiliki peranan yang teramat terhormat dalam perjalanan kepenulisan fiksi di Tanah Air. Oleh sebab itu, mereka layak kita abadikan dalam suatu tajuk, “Sastrawan Wanita Indonesia Tebaik Abad ini”.

Sastrawan Wanita Indonesia

Tentu saja, dalam postingan kali ini Hybernasi hanya membatasi diri pada informasi yang dapat dihimpun sampai artikel ini ditulis. Jika dalam perjalanan kelak ditemukan bahwa sesungguhnya terdapat lebih banyak lagi sastrawan wanita Indonesia yang layak ditasbihkan untuk dimonumenkan sebagai sastrawan wanita Indonesia terbaik dan terhebat, Hybernasi membuka diri pada koreksi dan komentar yang membangun.

Jika dalam sejarah kesusastraan Barat para penulis wanita selalu identik dengan gerakan feminisme, egalitarianisme, dan lain-lain, realitas kesusastraan di Tanah Air berjalan lebih dinamis. Para penulis wanita Indonesia tidak melulu berkutat dengan tema-tema besar yang berkembang pesat di Barat, melainkan pula dengan tema-tema lokalitas, keterasingan manusia, dan lain sebagainya. Jadi, secara kategoris tema, tampaknya para penulis wanita Indonesia tidak begitu berjarak dengan penulis laki-laki. Dengan kata lain, penulis-penulis wanita tersebut juga bergulat dengan tema yang sama dengan tema yang berkembang di kalangan penulis laki-laki.

 

7 Sastrawan Wanita Indonesia Terbaik Abad ini

 

1. Nh. Dini

Perempuan kelahiran Semarang, Jawa Tengah, dan berdarah Bugis ini adalah penulis dan sastrawan yang sangat produktif. Puluhan karya dan naskah kesusastraan telah ia torehkan dengan gemilang selama hidupnya. Melalui karya-karyanya, Nh. Dini juga dikenal luas sebagai salah satu tokoh feminis terkemuka di Tanah Air.

 

Riwayat Singkat

Nh. Dini bernama asli Nurhayati Srihardini Siti Nukatin Coffin. Penyematan Coffin di belakang namanya sebetulnya merupakan penisbatan kepada mantan suaminya yang berkewarganegaraan Prancis, Yves Coffin. Nh. Dini dilahirkan di Semarang pada 1936 dan meninggal di kota yang sama pada 2018 silam, karena sebuah kecelakaan.

Nh. Dini adalah penulis wanita pertama Indonesia yang memeroleh penghargaan bergengsi di bidang kesusastraan, yaitu SEA Write Award pada 2003. Penghargaan ini kerap diserupakan dengan Nobel kesusastraan untuk level Asia Tenggara.

Kritikus sastra Indonesia asal belanda, A. Teeuw, mengapresiasi karya-karya Nh. Dini lantaran karya-karya Nh. Dini banyak membicarakan isu-isu feminisme. Apalagi, Nh. Dini memiliki kecakapan meramu ide-ide feminismenya ke dalam bingkai kesusastraan tanpa mengurangi nilai-nilai sastrawinya. Malah, dengan menjunjung nilai-nilai feminisme tersebut, Nh. Dini kian menonjol sebagai sastrawan wanita yang penuh talenta.

 

Karya

 

Cerita Pendek
  • Dua Dunia (1956)
  • Tuileries (1982)
  • Segi dan Garis (1983)

 

Antologi Puisi
  • Bagi Seorang jang Menerima (1954)
  • Penggalan (1954)
  • Kematian (1958)

 

Novel
  • Hati jang Damai (1961)
  • Pada Sebuah Kapal (1972)
  • La Barka (Pustaka Jaya (1975)
  • Sebuah Lorong di Kotaku (1976)
  • Namaku Hiroko (1977)
  • Padang Ilalang di Belakang Rumah (1978)
  • Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979)
  • Sekayu (1981)
  • Kuncup Berseri (1982)
  • Orang-Orang Trans (1985)
  • Pertemuan Dua Hati (1986)
  • Keberangkatan (1987)
  • Jalan Bendungan (1989)
  • Tirai Menurun (1993)
  • Tanah Baru Tanah Air Kedua (1997)
  • Kemayoran Cerita Kenangan (2000)
  • Jepun Negerinya Hiroko (2000)

Dengan dedikasi tinggi dan karya yang begitu banyak dan bervariatif, Nh. Dini jelas sangat layak memeroleh predikat salah satu sastrawan wanita terbaik abad ini di Indonesia. Darinya, generasi milenial dapat merengkuh berbagai nilai, pedoman hidup, atau proses kreatif yang sudah menjadi legacy-nya selama mengembarai kesusastraan Indonesia

 

2. Dorothea Rosa Herliany

Dorothea Rosa Herliany adalah penulis wanita Indonesia hebat lainnya yang berasal dari Jawa Tengah. Rosa, panggilannya, dilahirkan di Magelang pada Oktober 1963.

Sebagai seorang penulis cum sastrawan, Rosa telah menyumbangkan dedikasi yang demikian tinggi untuk kesusastraan Indonesia. Rosa tercatat sebagai penyair, sastrawan, dan esais yang andal. Dia menulis cerpen, puisi, sajak, prosa, hingga laporan kebudayaan dengan kualitas yang sama baiknya.

 

Riwayat Singkat

Kegemaran Rosa kepada dunia tulis-menulis, kesusastraan secara lebih spesifik, dimulai sejak dia SMP. Bahkan, sejak usia anak menengah pertama tersebut, tulisan-tulisan Rosa kerap menghiasi Majalah Dinding (Mading) sekolah. Tentu saja, Rosa juga pelahap buku-buku sastra yang menggairahkan sejak di bangku SMP itu.

Karena minatnya yang teramat tinggi kepada kesusastraan, kelak Rosa melengkapi pengetahuan kesusastraannya dengan mengambil jurusan sastra sewaktu kuliah. Dia kuliah di IKIP Sanata Dharma (sekarang, Universitas Sanata Dharma), Yogyakarta pada Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS). Dan selepas lulus, Rosa memilih bekerja sebagai freelance writer (penulis lepas) dan wartawan –yang agaknya ini pun dimotivasi oleh minatnya sendiri.

 

Pencapaian Sastrawi

Karya-karya sastra Dorothea Rosa Herliany termasuk dari sedikit karya sastra Indonesia yang mendapatkan perhatian publik mancanegara. Rosa diapresiasi dunia karena karya-karyanya dianggap sebagai suara lain dari tema-tema dominan yang bergaung dalam khazanah kesusastraan Indonesia, khususnya di tahun-tahun 90an awal. Pencapaian-pencapaian sastrawi Dorothea Rosa Herliany tersebut antara lain;

 

Penerjemahan Karya

Karya-karya susastra Dorothea Rosa Herliany telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia misalnya bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Jepang, Belanda, Vietnam, dan Korea.

Antologi Puisi “Kill the Radio” adalah karya fenomenal tentang realitas feminisme dan humanisme dengan latar Indonesia yang kuat. Namun, dalam bacaan publik dunia, “Kill the Radio” sesungguhnya mewakili suara keterhimpitan perempuan yang secara luas berlaku di dunia kedua dan ketiga. Pada 2007, “Kill the Radio” diterbitkan oleh Arc Publication yang berbasis di London, Inggris.

 

Penghargaan

Pada 2015, Dorothea Rosa Herliany adalah satu-satunya sastrawan Indonesia yang berhasil menyabet penghargaan (award) untuk dua kategori sekaligus, yaitu Kusala Sastra Khatulistiwa.

Kategori tersebut diperuntukkan bagi karya prosa dan puisi terbaik sepanjang tahun 2015. Namun, sebelum itu, Rosa mendapatkan berbagai penghargaan bergengsi, sebagai misal Penulis Terbaik dari Pusat Bahasa pada 2003, Penghargaan Seni dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI pada 2004, dan lain sebagainya.

 

3. Ratna Indraswari Ibrahim

Ratna Indraswari Ibrahim, penulis dengan keterbatasan fisik sejak usia 10 tahun ini, adalah salah satu penulis penyuara kesetaraan gender dan pengungkit isu-isu feminisme yang cakap.

Sekalipun selama 50 tahun lebih dia menyandang keterbatasan fisik, namun semangatnya dalam aktivisme dan berkarya patut diacungi jempol. Dia terbang ke banyak negara untuk mengikuti berbagai training atau short course yang berhubungan dengan aktivismenya dalam beragam organisasi keperempuanan.

Dia pun seperti tak kehabisan ide untuk menulis novel, puisi, dan cerita-cetita pendek. Kediaman Ratna Indraswari Ibrahim di Malang juga nyaris tak pernah sepi dari para tamu. Tetamu tersebut umumnya adalah kalangan pengkaji isu-isu gender, juga penulis-penulis pemula. Ratna memang terkenal “ringan tangan” kepada penulis pemula, katakanlah untuk berbagi pengalaman kepenulisan atau proses kreatif yang ia tekuni selama usianya masih remaja.

 

Riwayat Singkat

Ratna Indraswari Ibrahim adalah sastrawan wanita kelahiran Malang, Jatim. Dia lahir pada 1949, dan meninggal pada 2011.

Dari silsilah keluarga, Ratna Indraswari Ibrahim sebetulnya orang Minang asli, dari suku Minangkabau. Pendidikannya, SD sampai dengan perguruan tinggi, semuanya ditampuh di Malang. Namun, Ratna gagal lulus dari Fakultas Administrasi Niaga Universitas Brawijaya, Malang.

 

Karya Penting dan Penghargaan

Tercatat sejak medio 80an (persisnya, tahun 1974), Ratna mulai dikenal publik Indonesia sebagai sastrawan. Ratna dikenal khalayak pembacanya sebagai penulis cerpen, puisi, dan novel. Karya-karya Ratna tersebar di banyak media nasional yang cukup bergengsi di masanya, seperti Kompas, Jawa Pos, Horison, Basis, Femina, Republika, dan lain-lain.

 

Karya Penting

Ratna Indraswari Ibrahim mencatatkan kegemilangan berkesusastraan sejak awal 80an hingga menjalang ajal. Berikut beberapa buku kumcer (kumpulan cerpen) dan antologi Ratna.

 

Antologi Cerpen

Pelajaran Mengarang (1993)

Lampor (1995)

Dunia Ibu, Antologi Cerita Pendek Wanita Cerpenis Indonesia (Korrie Layun Rampan, ed.)

Ungu, Antologi puisi Wanita Penyair Indonesia (Korrie Layun Rampan, ed.)

 

Antologi Puisi
  • Gerbong (1998)

 

Kumcer
  • Namanya Massa (2000)
  • Lakon di Kota Kecil (2001)
  • Sumi dan Gambarnya (2002)
  • Noda di Pipi (Kumpulan Cerpen, 2003)

 

Novel
  • Lemah Tanjung (2002)
  • Bukan Pinang (2003)

 

Penghargaan

  • Pemenang Sayembara Harian Bali Post (1980)
  • Sayembara Cerbung Majalah Femina (1990)
  • Sayembara Cerpen Majalah Femina (1995)
  • Penghargaan Kesusastraan Gubernur Jatim (2000)
  • Penghargaan Mendiknas untuk kategori kesetiaan pada sastra dan artistic (1998)
  • Cepen Namanya Massa memeroleh penghargaan karya sastra dari Pusat Bahasa, Depdiknas (2004)
  • Penghargaan Kesetiaan Berkarya dari Harian Kompas (2004).

 

4. Djenar Maesa Ayu

Siapa yang tak kenal dengan Sjumandjaja dan Tutie Kirana? Keduanya adalah script writer (penulis naskah) cum producer (sutradara) dan aktris kenamaan yang telah melahirkan puluhan karya, dan dari pasangan keduanya pula Djenar Maesa Ayu dilahirkan.

Nai, sapaan Djenar Maesa Ayu, adalah penulis perempuan Indonesia berbakat dan penuh kontroversi. Itu tak lepas dari tema-tema kesusastraan yang ia pilih: seksualitas dan “dunia dalam” perempuan. Sejak memasuki milenium kedua, tema feminisme memang menanjak tajam. Nai menyambutnya dengan teramat menukik, dengan mengambil tema-tema bernuansa ketabuan bagi khalayak.

Oleh kritikus, karya-karya susastra Djenar Maesa Ayu dianggap sebagai pendobrak; namun publik menilai Djenar terlampau vulgar. Djenar, karena sudah terbiasa dengan beragam bacaan susastra yang anti-mainstream sejak usia belia, tetap bergeming. Jalan kepengarangannya sudah ia pilih, dan konsekwensi-konsekwensi atas pilihan itu ia terima dengan terbuka.

 

Riwayat Singkat

Djenar Maesa Ayu dilahirkan di Jakarta, pada 14 Januari 1973. Ia adalah anak sulung dari pasangan Sjumandjaja dan Tutie Kirana.

Djenar dikenal sebagai pengarang/penulis, film maker, screen writer, hingga aktor. Dari tangannya telah lahir puluhan karya berupa cerpen, novel, dan film. Dan khusus untuk film, Djenar kadang bekerja sebagai screen writer dan produser, atau kadang pula sebagai penyedia ide –sebagaimana tampak dalam film bertajuk Mereka Bilang, Saya Monyet!

Cerpen yang menuai protes keras dari banyak pihak pada 2002 ini, di lain pihak justru mengantarkan namanya ke puncak kepengarangan yang kemudian menyejajarkan namanya dengan beberapa penulis hebat di Tanah Air.

Djenar mengakui, kepengarangannya diilhami oleh penulis-penulsi besar seperti Budi Darma, Seno Gumira Adjidarma, dan Sutardji Calzoum Bachri. Dia menjadikan mereka sebagai guru-guru yang berhasil memompa spirit kepengarangannya.

 

Karya dan Penghargaan

 

Novel
  • Nayla (2005)

 

Cerpen
  • Mereka Bilang, Saya Monyet! (2002)
  • Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) (2004)
  • Cerita Pendek tentang Cerita Pendek (2006)
  • 1 Perempuan dan 14 Laki-Laki (2011)

 

Filmografi
  • Boneka dari Indiana (1990)
  • Koper (2006)
  • Fenomena (2006)
  • Silat Lidah (2007)
  • Anak-Anak Borobudur (2007)
  • Cinta Setaman (2008)
  • Mereka Bilang, Saya Monyet (2008)
  • Dikejar Setan (2009)
  • SAIA (2009)
  • Purple Love (2011)
  • Melodi (2010)

 

Penghargaan
  • Piala Citra untuk film Mereka Bilang, Saya Monyet! (sebagai sutradara)
  • Khatulistiwa Literary Award 2003 (nomonator 10 besar untuk buku, Mereka Bilang, Saya Monyet!)
  • Cerpen Terbaik Kompas untuk cerpen Waktu Nayla (2003)
  • Pemenang kategori Cerpen Terbaik (Menyusu Ayah) dari Jurnal Perempuan (2003)
  • Cerpen Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) memeroleh Khatulistiwa Literary Award dalam ketogori “lima besar buku terbaik” (2004).

 

5. Ayu Utami

Ayu Utami adalah penulis wanita Indonesia yang lain, yang karya-karyanya kerap ditaburi kontroversi. Justina Ayu Utami, nama lengkapnya, adalah pengarang Indonesia yang sarat pengalaman dalam banyak bidang.

Ayu Utami pernah bekerja sebagai model untuk foto sampul sebuah majalah yang tersohor karena ulasan-ulasan keperempuanannya: Femina. Ayu bekerja sebagai model di majalah ini di tahun 1990. Ayu juga pernah bekerja pada perusahaan pemasok senjata, guest public relation pada sebuah hotel, dan akhirnya menemukan pekerjaan yang kemudian menerbangkan namanya, yaitu kejurnalistikan.

Ayu Utami bekerja sebagai wartawan lepas (freelance journalist) pada Forum Keadilan, Matra, D&R, dan anggota redaksi Majalah Kalam.

 

Riwayat Singkat

Justina Ayu Utami adalah nama yang diberikan oleh kedua orang tua Ayu Utami, Johanes Hadi Sutaryo dan Bernadita Suhartinah. Ayu dilahirkan di Bogor pada 21 November 1968.

Ayu Utami bersekolah SD di tanah kelahirannya, dan memasuki usia SMP ia pindah ke Jakarta. Di Jakarta pula, Ayu Utami menamatkan pendidikan tingginya dengan mengambil jurusan Sastra Rusia di Universitas Indonesia (UI) pada 1994. Setahun kemudian, pada 1995, ia meneruskan ketertarikannya pada jurnalisme dengan mengambil Short Course of Journalism di Cardiff University, UK, atas sponsor Thompson Foundation. Kemudian, pada 1999, Ayu Utami mengikuti The Asia Leadership Fellow Program.

 

Karya Penting dan Penghargaan

Sebagai pengarang, Ayu Utami bukan tipikal pengarang yang produktif. Namun, dari sedikit karya yang dihasilkan, Ayu Utami berhasil membuat gebrakan dengan memasukkan anasir-anasir ketabuan ke dalam karya-karyanya, dan itu –menurut banyak kritikus sastra- cukup memahatkan namanya dalam sedikit pengarang perempuan Indonesia sebagai pengarang yang memiliki keberanian yang dicirikan dengan “keterbukaan baru”.

Berikut ini beberapa karya penting yang sudah dihasilkan Ayu Utami sejauh ini.

 

Karya Ayu Utami
  • Saman, novel ini kerap dianggap memiliki “keterbukaan baru” (1998)
  • Larung (2002)
  • Bilangan Fu (2008)
  • Lalita (2012)
  • Manjali dan Cakrabirawa (2010)
  • Cerita Cinta Enrico (2012)
  • Soegija, 100% Indonesia (2012)
  • Si Parasit Lajang (2013)
  • Pengakuan Eks Parasit Lajang (2013)
  • Kumpulan Esai “Si Parasit Lajang” (Gagas Media, 2003)

 

Penghargaan

Novel Saman mencetak rekor sebagai novel best seller, dengan cetakan mencapai 55 ribu eksemplar. Dan berkat Saman juga, Ayu Utami memeroleh Prince Claus Award dari Prince Claus Fund pada tahun 2000.

 

6. Mira W

Sampai dengan tahun 80an, tidak ada pengarang perempuan Indonesia yang ketenarannya dapat menyalip namanya. Yang kelak bakal bersanding dengan popularitasnya, barangkali hanya Nh. Dini dan Agatha Christie.

Mira W, atau Mira Widjaja, adalah pengarang perempuan Indonesia keturunan Tionghoa. Mira Widjaja ditakdirkan menjadi sastrawan besar setelah sebelumnya menekuni kedokteran, sepersis penyair Taufik Ismail. Namun, bukan berarti Mira W adalah orang sembarangan dalam jagad kesusastraan nasional. Terbukti, selama hidupnya, Mira W telah menghasilkan karya tak kurang dari 58 judul buku.

Mira W dikenal pembaca sastra Indonesia sebagai penulis roman, kehidupan rumah sakit, dan kriminalitas.

 

Riwayat Singkat

Mira W (Mira Widjaja) adalah penulis wanita Indonesia keturunan Tionghoa, dengan nama Tionghoa Mira Wong. Ia dilahirkan di Jakarta pada 13 September 1950.

Nama Widjaja sebetulnya nama belakang dari ayahnya sendiri, Othniel Widjaja: salah seorang pelopor dan penggagas industrialisasi seni peran/film di Tanah Air. Pada tahun 50an, keluarga keturunan masih bisa dengan leluasa berkecimpung dalam banyak peran publisitas, namun pasca tumbangnya Orde Lama warga keturunan Tionghoa harus merayap dan bekerja secara samar-samar pada sektor swasta.

Bakat kesusastraan Mira W sebetulnya sudah terlihat sejak dini. Namun, orang tua rupanya lebih menghendakinya menekuni kedokteran, yang akhirnya membawa Mira W ke Universitas Trisakti.

Namun, bakat alamiah Mira rupanya tak bisa padam begitu saja lantaran ia harus berbelok ke dunia medis. Terbukti, semasa menjalani kuliah kedokteran di Universitas Trisakti, cerpen Mira W yang berjudul Benteng Kasih berhasil menembus majalah Femina: suatu majalah yang cukup bergengsi di masanya. Dan novel pertamanya, Dokter Nona Friska dimuat sebagai cerita bersambung di majalah Dewi di tahun 1977.

Sejak itu, karya-karya Mira W terus bermunculan hingga mencapai 50 judul novel dan 8 judul kumpulan cerita pendek.

 

Karya Penting dan Penghargaan

Karena banyaknya karya Mira W, berikut ini hanya disajikan beberapa karya terpopuler yang telah disadur menjadi film. Berikut 15 karya Mira W terpopuler.

(1) Perisai Kasih yang Terkoyak, (2) Bilur-Bilur Penyesalan, (3) Kemilau Kemuning Senja, (4) Ketika Cinta Harus Memilih, (5) Dari Jendela SMP, (6) Matahari di Batas Cakrawala, (7) Merpati Tak Pernah Ingkar Janji, (8) Permainan Bulan Desember menjadi film berjudul “Bidadari-Bidadari dari Surga”. (9) Jangan Ucapkan Cinta, (10) Luruh Kuncup sebelum Berbunga, (11) Di Sini Cinta Pertama Kali Bersemi, (12) Biarkan Kereta itu Lewat, (13) Tali Kasih, (14) Arini, (15) Lembah Dosa,

 

Penghargaan

Pemenang Sayembara Cerpen yang diadakan oleh Majalah Femina di tahun 1975, untuk cerpen Benteng Kekasih

Beberapa novel yang difilmkan berhasil meraih Piala Citra.

 

7. Helvy Tiana Rosa

Sebagaimana banyak terjadi pada banyak sastrawan besar, Helvy Tiana Rosa adalah penulis perempuan Idonesia yang memulai hidup dengan terlunta. Keluarganya, bahkan, pernah hidup di samping rel kereta api lantaran keadaan yang sangat terbatas.

Namun seiring waktu, kemunculan penulis berdarah Medan ini menandai suatu kebangkita dunia literasi di Indonesia. Berkat keuletannya membina calon-calon pengarang muda, Majalah Tempo menjulukinya sebagai Lokomotif Penulis Muda. Lewat Forum Lingkar Pena (FLP) yang dibidaninya, Helvy Tiana Rosa telah melahirkan puluhan penulis muda berbakat, yang akan menyongsong fajar masa depan kesusastraan Indonesia kelak.

Selain itu, saudara kandung penulis kenamaan lain Asma Nadia, telah memeroleh puluhan penghargaan, dalam dan luar negeri. Itu tak lepas dari beragam karya yang telah ia publikasikan, juga pengabdian masyarakat yang terus ia tekuni.

 

Riwayat Singkat

Sebagaimana telah disinggung, Helvy Tiana Rosa memang berangkat dari keluarga yang serba kekurangan. Dia dan dua adiknya harus hidup dari pelataran kemiskinan, yang juga menghimpit kedua orang tuanya.

Helvy dilahirkan di Medan, pada 2 April 1970.

Helvy Tiana Rosa menulis cerpen, novel, esai, naskah drama, dan bahkan bergiat di teater. Teater yang ia dirikan, Teater Bening, adalah satu-satu kelompok teater yang semua personelanya adalah perempuan. Kelompok teater ini pernah pentas di Taman Ismail Marzuki (TIM) dan beberapa keliling Sumatera dan Jawa. Ia telah menghasilnya tak kurang dari 40 judul buku, dan sebagiannya sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Antara lain, Inggris, Jerman, Jepang, Prancis, Swedia, dan Arab.

 

Karya Penting dan Penghargaan

Beberapa karya sastra Helvy Tiana Rosa yang disebutkan di sini adalah yang hanya berupa antologi tunggal. Sementara yang dalam bentuk antologi bersama, jumlahnya tidak dimungkinkan untuk dimuat juga di sini. Helvy adalah penulis yang sangat produktif dan menghasilkan karya puluhan.

Sejak 1979 hingga 2008 saja, setidaknya inilah yang dapat disebutkan, yaitu; Bukavu (2008), Lelaki Kabut dan Boneka (2002), Titian Pelangi (2000), Hari-Hari Cinta Tiara (2000), Manusia-Manusia Langit (2000), Nyanyian Perjalanan (1999), Hingga Batu Bicara (1999), Sebab Sastra yang Merenggutku dari Pasrah (1999), Ketika Mas Gagah Pergi (1997).

 

Penghargaan

Tak kurang dari 50 jenis penghargaan tingkat nasional dan internasional dalam bidang kepenulisan dan pemberdayaan masyarakat, yaitu;

  • Tokoh Sastra (Balai Pustaka dan Majalah Sastra Horison, 2013)
  • Tokoh Perbukuan (IBF Award dari IKAPI, 2006)
  • Tokoh Sastra (Eramuslim Award, 2006)
  • Ummi Award (2004)
  • Nova Award (2004)
  • Kartini Award (The Most Inspiring Women in Indonesia, 2009)
  • SheCAN! dan Danamon Award (untuk FLP, 2008).
  • Puisi Fi Sabilillah (menjuarai Lomba Cipta Puisi Iqra Tingkat Nasional, 1992).
  • Cerpen Jaring-Jaring Merah (salah satu cerpen terbaik Majalah Horison pada era 1990-2000).
  • Bukavu (Khatulistiwa Literary Award, 2008).
  • Anugerah Pembaca Indonesia (Goodreads Indonesia, 2012).
  • Dua buku, yakni Tanah Perempuan dan Juragan Haji (Karya Sastra Indonesia Unggulan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
  • Satyalencana Karya Satya (dari Presiden Republik Indonesia, 2016).

ayu utami djenar maesa ayu dorothea rosa herliany helvy tiana rosa pengarang indonesia pengarang wanita indonesia penulis wanita penulis wanita indonesia ratna indraswari ibrahim sastrawan wanita sastrawan wanita indonesia wanita indonesia

Related Post

Leave a reply